GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BUKAN PERANG: Petugas KPPS berkostum pejuang kemerdekaan saat bertugas dalam Pilkada Bantul 2015 di TPS 30, Tegal Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Rabu (9/12).

Usung Tema Unik, Berharap Naikkan Partisipasi Warga

Ada yang berkostum tentara Belanda, ada pula yang berperan sebagai anggota pasukan pembela tanah air (PETA), dan tentara kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka tidak sedang karnaval, apalagi simulasi perang. Mereka adalah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 30 Tegal Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul.
RIZAL SN, Bantul
SUASANA berbeda terlihat di tempat pemungutan suara (TPS) 30, kemarin (9/12). Warga seraya diajak kembali ke masa lampau begitu memasuki ruangan pemungutan suara. Pasalnya, petugas KPPS mengenakan seragam tentara, leng-kap dengan topi baret dan pistol, meski sebatas mainan. Ya, di TPS itu KPPS mengambil tema pejuang kemerdekaan tahun 1945. Jika di perang kemerdekaan antara ten-tara Belanda dan pejuang kemerdekaan saling serang, di TPS 30 mereka justru saling membantu
. Seorang berseragam tentara PETA bertugas menjaga kotak suara. Se-mentara di meja depan, pejuang TNI, ten-tara Belanda, dan laskar rakyat bertugas mencatat daftar pemilih yang datang. Me-reka dengan tekun melayani warga yang menggunakan hak pilihnya dalam pilkada serentak, kemarin
Tidak hanya itu, selain mengenakan seragam, sejumlah atribut bertema pejuang terpa-jang di TPS itu. Dari pagar kawat berduri dengan penyangga kayu, empat buah se-napan, dan satu Mobil Jeep Willis buatan tahun 1941 juga ada di lo-kasi. Mobil Jeep yang masih ber-fungsi itu milik Eko Isdiyanto, seo-rang penanggung jawab komunitas Jogjakarta 45 di kampung tersebut.Ketua KPPS TPS 30 Tegal Krapyak Bajuri Sutopo mengatakan, tema perjuangan yang diambil di TPS itu untuk memberikan nuansa lain bagi warga. “Kita memberikan nuansa perjuangan agar warga juga semangat berpartisipasi da-lam pilkada ini. Perjuangan merupakan bagian dari proses pembangunan,” kata Bajuri ke-pada wartawan di lokasi.
Dia mengatakan, seluruh atribut yang digunakan di TPS tersebut berasal dari hasil sewa pribadi anggota. Ada pula yang merang-kai sendiri, dan sebagian pinja-man dari warga setempat. Total, biaya yang dikeluarkan senilai Rp 1,7 juta. “Jumlah anggota KPPS ada sembilan. Gaji yang diterima KPPS digunakan untuk iuran membi-ayai semua ini,” terangnya.
Bajuri menambahkan, peng-gunaan tema perjuangan di TPS 30 Tegal Krapyak itu baru pertama kali dilakukan. Hal itu bertujuan meningkatkan partisipasi warga. Sebab, dia melihat dari pelak sanaan pemilu sebelumnya, baik pileg dan pilpres, dari 431 daftar pemi-lih tetap (DPT) yang tercantum, hanya 300-an yang datang. “Untuk lebih meningkatkan antusiasme warga, kami juga menambahkan hiburan cam-pursari,” terangnya. Salah seorang warga yang meng-gunakan hal pilihnya di TPS 30, Jumidah, 59, mengaku merasakan tema berbeda di TPS itu. Dia ber-harap pada penyelenggaraan pemungutan suara berikutnya akan ada tema lain yang juga me-narik. “Harapannya kalau warga semangat memilih bisa mengha-silkan pemimpin yang amanah. Maka, bisa lebih maju,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Mustakim, 26, warga setempat. Tema unik tersebut bisa jadi sim-bol agar warga semakin rukun, kompak, dan saling bekerja sama. Sekaligus bisa jadi ajang kritik ke-pada para pemimpin yang akan memimpin, bahwa cita-cita ke-merdekaan masih belum tercapai. “Pemimpin yang baru nanti harus membawa perubahan, masyara-kat lebih sejahtera. Itu saja sih harapannya,” katanya. (ila/ong)