SLEMAN – Mesin politik tim pendukung pasangan calon (paslon) Bupati-Wakil Bupati (Wabup) Sleman Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana Sulistiyo memang tak bisa dipandang sebelah mata. Terutama di tingkat akar rumput. Itu yang membuat pasangan nomor urut 1 optimistis menang dalam pilkada 2015 yang dihelat hari ini, Rabu (9/12).
Mengusung konsep gotong royong, tim bergerak secara door to door. Tak heran jika tingkat elektabilitas Yuni-Danang merangkak naik hanya dalam tempo kurang dari empat bulan. Butuh kerja keras tim dalam penetrasi untuk menyamai elektabilitas Sri Purnomo (SP).
Ya, sebagai mantan calon bupati, SP memiliki kans lebih dikenal masyarakat. Apalagi, hampir setiap kegiatan tatap muka atau pertemuan warga, sosok bupati lebih mendominasi untuk turun ke lapangan. Belum lagi “metode” layatan dan jagong manten. Dua istilah itu cukup melekat di benak warga Sleman.
Sri lebih dikenal karena rajin melayat warga yang keluarganya meninggal atau menghadiri undangan pernikahan. Cara sederhana itu ternyata cukup jitu untuk mendongkrak popularitasnya. Bahkan, sempat muncul opini di kalangan awam bahwa tanpa kampanye pun, SP telah mengantongi 30 persen suara pemilih.
Anggapan itu mungkin saja benar. Tapi itu dulu. Tiga bulan berjalan saat Sri lengser dari kursi bupati, situasi mulai berbalik. Pelan tapi pasti, metode blusukan pasar dan desa-desa yang dijalani Yuni membuat perempuan asal Pugeran, Maguwoharjo, Depok itu mulai dikenal luas. Diakui oleh tim pemenangan Yuni-Danang, butuh kerja ekstra keras untuk menembus selisih 30 persen suara yang diklaim telah “dimiliki” Sri Purnomo. Danang yang merupakan wajah baru di kancah perpolitikan Sleman bergerak dengan mesin Gerindra. Belum lagi kader militan PKS yang turut menjadi pendukung Yuni-Danang.
Meski masing-masing kubu mengklaim menang, perhitungan kader banteng moncong putih terkesan lebih realistis. Yakni, ada jumlah sekitar lima persen pemilih yang belum menentukan pilihan. Merekalah yang dibidik tim Yuni-Danang untuk memenangi pilkada.
Sementara, SP yang menyatakan yakin mampu meraih 75 persen dari total suara sah pemilih justru terkesan terlalu PD (percaya diri). Sedikit lengah saja, bukan tidak mungkin situasi akan berbalik. Apalagi, sosok Muslimatun yang notabene mantan kader PDIP sempat meredup di kalangan simpatisan banteng moncong putih lantaran dicap sebagai pembelot.
Secara kewilayahan, nama Sri Purnomo bisa jadi lebih dikenal. Tapi, di kantong-kantong PDIP yang cukup padat penduduknya,seperti Mlati, Ngaglik, Pakem, Godean, Gamping, dan Depok, sosok Yuni lebih mendominasi. Demikian pula di kawasan timur Sleman. Sedangkan Sri Purnomo kuat di Tempel, Turi, Cangkringan, Ngemplak, Kalasan, Moyudan, Minggir, Seyegan, dan Sleman.
Memang, jika dilihat dari perhitungan suara kemenangan tim pendukung masing-masing calon berdasarkan hasil pemilu legislatif 2014, perolehan partai pendukung Sri Purnomo-Sri Muslimatun lebih unggul. Didukung Partai Nasdem, PKB, PAN, Golkar, Demokrat, PPP, total perolehan kala itu mencapai 320.171 suara. Itu masih ditambah Hanura 11.066 suara dan Partai Bulan Bintang 3.642.
Sedangkan pasangan Yuni-Danang disokong 279.099 suara dari tiga partai pengusung. Itu belum ditambah dukungan dari Perindo, partai pendatang baru besutan Hari Tanoesoedibjo, yang diklaim mendukung Yuni-Danang.
Namun, perhitungan itu tentu bukan harga mati. Sebab, dalam pilkada, suara warga tak lagi menyatu. Apalagi tak ada penyokong dana untuk keperluan biaya politik. Angota dewan yang duduk di DPRD juga tak bisa bergerak all out seperti saat mereka bertarung untuk mencari kemenangan pribadi.
Program masing-masing yang didengungkan dalam visi misi juga cukup berpengaruh. Warga yang butuh perubahan cenderung berafiliasi ke Yuni-Danang. Rangsangan program bantuan Rp 50 juta per padukuhan per tahun ternyata cukup menggigit. Sebaliknya, kalangan yang menganggap baik kepemimpinan Sri Purnomo selama lima tahun lalu tetap ingin mempertahankan calon bupati nomor urut dua itu. Apapun hasilnya, inilah saat pembuktian siapa layak memimpin 1,2 juta penduduk Sleman lima tahun ke depan. Kita tunggu saja. (yog/ila/ong)