GUNAWAN/RADAR JOGJA
TERIMA AMANAH: Empat kandidat kepala daerah Gunungkidul usai mengikuti acara debat publik terakhir yang digelar penyelenggara KPU Kabupaten belum lama ini.
GUNUNGKIDUL – Hari ini (9/12) masyarakat akan memilih calon kepala daerah yang diyakini mampu membawa wilayah menjadi lebih baik. Empat kandidat bupati Gunungkidul berbagi kisah detik-detik menjelang pemungutan suara.
Ke empat kandidat bupati tersebut memperebutkan sebanyak 617.599 suara sesuai daftar pemilih tetap (DPT). Jika salah satu dari mereka mampu menang mutlak di tiga daerah pemilihan (dapil) yakni Wonosari, Semanu, dan Playen maka tiket mendapat amanah menjadi penguasa Bumi Handayani semakin dekat.
Namun, bukan berarti dapil kecil di sebelas kecamatan yang lain tidak banyak berpengaruh dalam mengeruk suara. Artinya, ke empat kandidat memiliki peluang sama merebut hati rakyat. Setiap suara yang dicoblos di bilik suara bakal mengantar mereka menjadi orang nomor satu di wilayah Gunungkidul. Tapi biarkanlah masyarakat menentukan pilihan masing-masing.
Detik-detik menjelang coblosan, Radar Jogja berkesempatan tatap muka dan wawancara dengan semua kandidat.Orang-orang pilihan tersebut berbagi kisah dan pengalaman detik-detik menerima amanah dari rakyat. Dimulai dari calon bupati nomor urut 1, Badingah. Petahana ini mengaku lebih banyak mendapat pengalaman menyenangkan selama kampanye. Pengalaman paling berharga adalah ketika diberi puisi oleh warga ketika kampanye terbatas.
“Selama kampanye respons masyarakat masih baik. Semua mengaku masih ingat dan mengenal saya,” kata Badingah.
Sementara calon bupati nomor urut 2, Benyamin Sudarmaji memiliki pengalaman berbeda ketika kampanye. Calon perseorangan ini mengaku sedih karena praktik politik uang merajalela.
“Dalam acara sosialisasi saya minta pengestu (dukungan doa), tapi langsung dijawab (oleh warga) duitnya mana. Dimintai uang terang-terangan, sedih saya,” kata Benyamin.
Pentolan organisasi Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) ini berpendapat, saat ini bangsa Indonesia menjadi bangsa peminta, bukan bangsa dengan mental membangun. Warga hanya mau meminta dan tidak mau merugi. “Kalau saya mendapat amanah menjadi kepala daerah, mental rakyat harus diubah. Namun kalau tidak jadi (bupati), saya akan kembali seperti sediakala. Melalui IKG tetap ada program bedah rumah dan yang lain,” ujarnya.
Sedangkan calon nomor urut 3, Djangkung Sudjarwadi mengucapkan terima kasih kepada seluruh lapisan masyarakat. Calon dari partai penguasa, PDIP itu berterima kasih atas doa dan dukungannya yang tidak putus asa dalam perjuangan untuk mewujudkan Gunungkidul baru yang lebih baik. “Selamat memilih dengan hati nurani,” kata Djangkung.
Kemudian, calon nomor urut 4, Subardi TS bersyukur karena diberi kesempatan pulang kampung. Sekian lama merantau, momen bertemu dengan masyarakat seluruh pelosok Kota Gaplek luar biasa indahnya. “Saya kangen dengan masyarakat Gunungkidul. Saya ingin berbuat lebih banyak lagi jika diberi amanah oleh rakyat,” kata Subardi. (gun/ila/ong)