Gunawan/Radar Jogja
BENCANA: Rumah seorang warga Padukuhan Pelem, Pundungsari, Semin, rusak akibat diterjang angin kencang belum lama ini.
GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul terus melalukan pemetaan daerah rawan bencana. Sedikitnya sudah ada tujuh wilayah yang masuk kawasan zona merah dan menjadi perhatian serius pemerintah.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Budhi Harjo mengatakan, memasuki musim penghujan, potensi bencana alam yang paling besar adalah tanah longsor di 50 desa. Karena itu pihaknya sudah melakukan antisipasi sejak dini.
“Peta bencana rawan longsor kita ada di Kecamatan Purwosari, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin dan Ponjong,” kata Budhi kemarin (8/12).
Dengan peta bencana ini, tahun depan pihaknya akan menambah jumlah desa tangguh bencana (Destana) sebanyak 11 desa. Dengan begitu, jumlah destana yang dikembangkan BPBD menjadi 36 desa.
“Destana bentukan BPBD kabupaten sebanyak dua lokasi, sementara destana bentukan BPBD DIJ ada enam lokasi dan destana bentukan BNPB tiga lokasi,” ujarnya.
Menurut Budhi, pembentukan destana sangat penting karena wilayah ujung timur Jogjakarta ini rawan bencana, baik tanah longsor, banjir, angin puting beliung, kekeringan, gempa bumi hingga tsunami. “Tentu dengan pembentukan destana, warga bisa lebih waspada dan mengetahui apa yang harus dilakukan,” ujarnya.
Sementara itu Pjs Bupati Gunungkidul Budi Antono meminta kepada seluruh pihak, baik pemerintah desa, kecamatan, BPBD untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi dalam antisipasi becana.
“Dengan begitu, jika terjadi bencana alam semua pihak bisa langsung melakukan tindaklanjut untuk mengatasi,” katanya.
Menurut Budi Antono, garda terdepan saat terjadi bencana adalah warga terdampak bencana dan pemerintah desa setempat. Dengan demikian, hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi. (gun/laz/ong)