YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
TEGAS : Kapolres Sleman Sleman AKBP Faried Zulkarnain saat memberikan keterangan kepada para wartawan kemarin (7/12).
SLEMAN- Istilah “serangan fajar” ternyata masih cukup nge-trend di setiap ajang pesta demokrasi pemilihan umum. Dua kata yang diartikan sebagai aksi bagi-bagi duit oleh oknum kepada warga agar memilih calon tertentu, yang dilakukan saat pagi pada hari-H pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS).
Hal itu tetap menjadi perhatian serius kepolisian. Namun, Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain justru menitikberatkan pada kemungkinan adanya peredaran uang palsu. “Itu sangat mungkin terjadi saat serangan fajar,” katanya kemarin (7/12).
Upaya antisipasi dilakukan dengan membentuk satgas penegakan terpadu. Sedikitnya 20 orang anggota intelejen dan reserse telah disebar untuk memantau kemungkinan adanya aksi politik uang dan pergerakan massa saat pencoblosan besok. “Jika ada yang tertangkap kasus politik uang akan kami tindak,” tegasnya.
Kapolres mengimbau masyarakat yang mengetahui ada indikasi tindak politik uang segera melaporkan kepada aparat berwajib. Faried juga mengindikasikan adanya 20 TPS kategori rawan 1. Maksudnya, tingkat kerawanan tidak terlalu tinggi sehingga dibutuhkan prioritas pengawasan dan kesiapsiagaan aparat.
TPS dikategorikan rawan 1 jika menjadi lokasi dimana calon peserta pilkada menggunakan hak pilihnya. Misalnya, Dusun Jaban, Tridadi (kediaman Sri Purnomo), Sinduadi, Mlati (Sri Muslimatun dan Danang Wicaksana Sulistyo), serta Pugeran, Maguwoharjo, Depok (Yuni Satia Rahayu). Juga TPS yang menjadi basis massa partai pendukung calon.
Selain itu, juga di TPS ada pejabat negara atau mantan pejabat yang menggunakan hak pilihnya. Misalnya, Sawitsari, Condongcatur, Depok (mantan Wapres Boediono dan mantan Ketua MPR RI Amien Rais) atau Maguwoharjo (di kediaman mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD). “TPS berlokasi jauh juga masuk rawan 1. Rawan 2 (kategori sangat rawan) tidak ada,” papar perwira menengah dengan melati dua.
Selain menyiapkan tim intelejen dan reserse, Kapolres menyiagakan 100 kompi Brimob untuk bersiaga pada hari-H pemungutan suara. Antisipasi menghadapi potensi pergerakan massa tertentu. Meskipun, sampai kemarin, belum mendapat informasi kemungkinan tersebut.(yog/din/ong)