HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
BLUSUKAN: Wali Kota Haryadi Suyuti bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIJ Arief Budi Santoso saat berdialog dengan pedagang di Pasar Kranggan, kemarin (7/12).

JOGJA-Meskipun Kota Jogja tidak memiliki sumber daya alam, ternyata tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. “Impor” beras dari daerah tetangga seperti Kulonprogo, Bantul, dan Klaten justru menguntungkan secara ekonomi makro.
Selama tahun 2015 ini, laju pertumbuhan ekonomi di Kota Jogja jauh di atas rata-rata nasional. Ekonomi Kota Jogja yang bergantung dari pariwisata, industri kreatif, dan UMKM menjadi pilar penting ketangguhan Kota Jogja. “Kalau target sampai akhir tahun, bisa di atas rata-rata DIJ. Jika DIJ saat ini 5,3 persen, Kota Jogja bisa 5,4 persen,” tutur Wali Kota Haryadi Suyuti (HS), di sela-sela blusukan di Pasar Kranggan, kemarin (7/12).
Menurut HS, target tersebut sangat realistis. Sebab, dengan DIJ sebagai daerah tujuan pariwisata, otomatis membuat Kota Jogja terangkat. “Keuntungannya pusat kegiatan ada di Kota Jogja. Meskipun, aktivitasnya di luar kota,” katanya.
Ia menambahkan, pertambahan itu juga dengan mempertimbangkan libur akhir tahun. Saat libur akhir tahun, wisatawan yang berkunjung ke DIJ bakal meningkat. Alhasil, perputaran uang pun juga bertambah yang mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIJ Arief Budi Santoso optimistis target tersebut bisa terpenuhi. Sebab, jika melihat ekonomi makro di DIJ saja, saat ini juga lebih baik daripada nasional. Jika nasional inflasi mencapai 2,37 persen, di DIJ hanya 2,11 persen. “Tren ekonomi di DIJ ini lebih stabil dibandingkan nasional. Karena, DIJ tidak menggantungkan dengan komoditas pokok (bahan tambang) yang sedang drop,” tandas Arief.
Pilar ekonomi DIJ khususnya Kota Jogja yang bergantung dari sektor pariwisata juga menjadi salah satu faktornya. Meski ekonomi nasional jeblok, wisatawan tetap menyisihkan uang untuk plesiran ke DIJ. “MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition) tengah tahun sampai akhir tahun ini sudah membaik,” tambahnya.
Untuk kegiatan MICE itu pun, juga banyak diselenggarakan di Kota Jogja. Ini karena infrastruktur untuk kegiatan tersebut banyak tersedia di Kota Jogja. Kegiatan nasional maupun internasional pun banyak diselenggarakan. “Pertumbuhan ekonomi DIJ 5,3 persen. Target kami sampai akhir tahun bisa bertahan sampai 5,1 persen,” jelasnya.
Demi mempertahankan laju pertumbuhan sesuai dengan target tersebut, HS memastikan, stok bahan pokok aman. Libur akhir tahun tak akan berpengaruh terhadap konsumsi bahan pokok makanan. “Kami berusaha untuk mengubah stigma libur akhir tahun. Libur akhir tahun tidak harus dilakukan dengan meningkatkan konsumsi. Perubahan pola pikir ini yang akan menjadi kekuatan ekonomi di Kota Jogja tetap stabil,” tandas mantan wakil wali kota 2006-2011 ini.
Ia pun menegaskan, pihaknya sudah meminta semua pedagang untuk memotong tata niaga yang mahal. Seperti beras dari Bantul, tidak perlu harus ke Delanggu terlebih dahulu. “Langsung dibeli pedagang di Jogja. Agar biayanya juga lebih murah,” katanya.
Selain berbagai upaya tersebut, jelang akhir tahun ini, belanja APBD dan APBN juga digenjot. Pemkot Jogja pun menggelontorkan uang senilai Rp 20 miliar setiap hari demi terpenuhi target serapan. Sehingga, berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi makro. (eri/din/ong)