Gunawan/Radar Jogja
SEMPAT KESAL: Menteri PU Mochamad Basoeki Hadimoeljono saat sidak di lokasi pengeboran air sungai bawah tanah Bribin II, Semanu, Gunungkidul, kemarin (7/12)

GUNUNGKIDUL – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mochamad Basoeki Hadimoeljono melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pengangkatan air sungai bawah tanah di Gunungkidul, kemarin (7/12). Dalam kesempatan ini, seorang operator sempat kena semprot.
Menteri marah lantaran penjelasan operasional dari operator Bribin II, Semanu, yang jadi lokasi pengeboran air kerja sama dengan Karlrusche Institute of Technology (KIT), Jerman, membingungkan. “Kamu bisa menjelaskan tidak? Kalau tidak, bisa nanti saya jelaskan, malah pusing,” kata Basoeki dengan wajah kesal.
Tidak mau basa-basi, menteri langsung “interogasi” dan memeriksa sejumlah lokasi lain Bribin II. Dikatakan, lokasi pengeboran sungai bawah tanah sedalam 105 meter itu diketahui menggunakan mikrohydro. Lalu, menteri bergegas melihat lokasi reservoir (penampungan) utama berlokasi 240 meter di atas bukit Kanigoro, Sempon, Dayakan, Kecamatan Semanu.
“Sistem pemanfaatan air bawah tanah di Gunungkidul sudah lama dan merupakan sistem terpanjang. Ratusan kilo pipa dipasang membentang,” ujarnya. Menurutnya, dengan sistem yang panjang ini maka diperlukan energi besar, baik menggunakan pompa air maupun menggunakan sistem BBM ataupun listrik.
Dia menilai, pengelolaan Bribin II membutuhkan pemeliharaan rumit. Untuk itu, atas usulan Ketua DPRD Gunungkidul Suharno, dibuat tampungan air sebelum ditampung di reservoir.
“Sistem begini ada beberapa tergantung dari topografinya. Kalau tidak ada tampungan, jika pompa di sumur mati, maka di sini mati. Makanya beliau mengusulkan tampungan dipermukaan sebelum ditarik. Coba kita kerjakan nantinya, ini ide yang baik akan kita kaji,” ujar menteri.
Sementara itu operator Bribin, Suparno, mengatakan dari lima pompa yang berfungsi baik, hanya dua pompa dengan debit air 20 liter per detik. (gun/laz/ong)