RIRIN OKTAVIANI/EKSPRESI
FOTO BERSAMA: Para peserta saat mengikuti forum Festival Film Pelajar Jogja.
FESTIVAL Film Pelajar Jogja yang digelar kali keenam (FFPJ #6) berakhir Minggu (6/12). Acara tersebut digelar di Komplek Pondok Pemuda Ambarbinanungan Jogjakarta. Suasana akrab sineas pelajar dari berbagai daerah se Indonesia tercipta di sana.
Selain belajar dan berbagi tentang sinematika FFPJ #6 juga diisi banyak kegiatan lain. Antara lain kelas media advokasi, kelas lensa anak, forum pendidikan, kelas digital security, pemutaran film, dan sharing dengan komunitas dan fasilitator yang ahli di bidangnya.
“Seneng banget, rame banget, seru banget, nambah ilmu nambah temen. Temen dari berbagai daerah. Sukses buat FFPJ,” ungkap Melinda, peserta dari SMKN 1 Cimahi.
Komunitas film pelajar dari seluruh Indonesia mengirimkan karyanya dalam FFPJ #6 itu. Sebanyak 171 karya video diterima panitia. Terdiri dari kategori, seperti fiksi, dokumenter dan musik, serta 18 video testimoni anti-bullying.
Dalam gelaran tersebut juga diberikan penghargaan khusus bagi video tentang anti-korupsi. Penghargaan tersebut berupa BHACA (Bung Hatta Anti-Corruption Award).
Sedangkan kriteria penjurian meliputi kekuatan ide, pesan, kualitas teknis, dan kelengkapan pendukung karya. Juri terdiri dari Ki Hartanto, Alexandri Luthfi, dan Soebagjo Budi Santosa serta Berkah Gamulya dari BACHA bersama SIMPONI sebagai juri kategori anti-korupsi dan video musik.
“Semoga akan muncul ide dan gagasan kuat, muncul gagasan baru, ide baru, muka-muka baru sineas muda. Semoga film-film pelajar semakin berkualitas, semakin banyak karya pelajar yang ditoton pelajar, guru-guru, dan masyarakat umum,” harap Ki Hartanto.
“FFPJ semoga bukan hanya sekadar perayaan tapi juga sebagai kekuatan memajukan dunia sinema kita,” kata Tommy Taslim, Founder FFPJ. (rin/iwa/ong)