JOGJA – Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Suryodilogo menyata-kan kesiapannya menduduki singgasana Adipati Pura Pakualaman. Dia akan jumeneng dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam (PA) X sekaligus sebagai Wakil Gubernur (Wagub) DIJ. KBPH Suryodilogo mengungkapkan, dua jabatan tersebut merupakan hal baru baginya, tentunya ada konse-kuensi dan tanggung jawab tersen-diri. “Kalau beban pasti ada, tidak menjadi (PA X) pun ada beban. Tapi itu dinamika kehidupan,” ujarnya saat pertemuan dengan Forum Komuni-kasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) DIJ di Bangsal Sewotomo Pura Pakualaman Jumat malam (4/12)
Pertemuan tersebut digelar se-bagai bentuk terima kasih terhadap peran Forkompimda yang sudah membantu selama proses pema-kaman PA IX. “Tidak ada maksud lain dengan acara ini. Sebagai bentuk terima kasih saja. Saya tidak minta dukungan,” lanjutnya.Pria dengan nama lahir Wijo-seno Hario Bimo ini mengatakan, sebagai Adipati, memiliki tujuan dalam melestarikan kebudayaan. Terlebih dalam Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIJ dise-butkan Pura Pakualaman sebagai pelestari budaya bersama Keraton Jogjakarta. Pura Pakualaman tidak sekadar eksis dalam melestarikan budaya yang sudah ada. “Namun, juga menghidupkan kembali budaya yang selama ini mulai hilang,” ungkapnya.
Oleh karena itu, sebagai Adi pati kelak, dia akan terus melakukan upaya pelestarian budaya. Misal-nya saja dalam merekonstruksi sejumlah karya tari di Pura Pa-kualaman, juga naskah-naskah kuno. Termasuk menghidupkan kembali tradisi panahan tradisio-nal, batik, dan prajurit kereta. KBPH Suryodilogo mengung-kapkan, khusus untuk prajurit kereta yang dalam sejarahnya pernah menjadi ikon Pura Pa-kualaman memang belum bisa diwujudkan. “Prajurit kereta masih menjadi impian, karena biayanya mahal,” katanya.Sedangkan untuk perannya sebagai Wakil Gubernur DIJ ke-lak, dia mengaku terus melaku-kan persiapan. Di antaranya mempersiapkan batin untuk mendampingi Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X.
Diakuinya, sebetulnya dia su-dah sejak lama belajar mengenai tata pemerintahan. Tak hanya dari ayahandanya, almarhum PA IX. Namun juga dari sang kakek, PA VIII yang sebelumnya juga menjabat sebagai Wagub DIJ. Bahkan PA VIII sempat menjadi Gubernur DIJ. “Dari dulu sudah belajar, tidak hanya dari bapak, tapi dari eyang bagaimana harus berperan men-dampingi Gubernur DIJ,” ujarnya.
Disamping itu, jabatannya se-bagai Kepala Biro Kesejahte-raan Setprov DIJ juga mem-bantu dalam persiapannya untuk menduduki kursi wagub. Tugas yang diemban selama ini, lanjutnya, cukup membantu untuk mengenali karakter Gu-bernur DIJ. “Dalam keseharian kebetulan saya ditugaskan di Kepatihan, tentu itu menjadi bekal juga,” ujarnya.Ketika ditanyakan tentang ka-rakternya nanti ke publik, apa-kah akan meniru gaya kepemim-pinan mendiang ayahnya, Suryodilogo menjawab dengan diplomatis. “Prinsipnya saya tetap membantu beliau (Guber-nur DIJ). Posisi sebagai second man tentu akan beda,” jawabnya.
Sementara itu, jumenengan di Pura Pakualaman rencananya dilangsungkan pada 7 Januari 2016 mendatang. Mengenai persiapan jumenengan, staf urusan Kapanitran Pura Pakua-laman Mas Riyo Sastrodirjo mengatakan, empat kereta ken-cana yang akan digunakan un-tuk kirab dalam dua hari terakhir sudah dicek kondisinya. Empat kereta itu yakni, Kanjeng Kyai Manik Koemolo, Kanjeng Nyai Roro Kumenyar, Kanjeng Kyai Manik Brojo, dan Kanjeng Kyai Brojonolo. Dari empat kereta yang akan digunakan, Kereta Kanjeng Kyai Manik Koemolo yang paling kritis kondisinya. “Sudah keropos, sudah tidak layak, harus diperbaiki total. Padahal kereta itu yang akan dinaiki calon Adipati KGPAA PA X,” katanya.
Pria bernama asli Rimawan ini mengungkapkan, untuk per-baikan Kereta Manik Koemolo, Pura Pakualaman berkonsul-tasi dengan Gusti Bendara Pang-eran Haryo (GBPH) Yudhanin-grat, yang merupakan Pengageng Kawedanan Hageng Kridho Mardowo sekaligus Kepala Mu-seum Kereta Keraton Jogja-karta. “Kita nanti minta ban-tuan Gusti Yudha,” kata Rimawan. (pra/ila/ong)