Sudah Dipanggil Pilot Sejak SMP

Jika saat ini, Imran Baidirus SE sudah berpangkat Marsekal Pertama TNI, dan menjabat sebagai Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Adisutjipto, tampaknya juga sudah menjadi garisnya. Pasalnya, selain sejak menginjak remaja sudah dipanggil pilot oleh saudara-saudaranya, itu juga sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.
————
DARI SMP, Imran Baidirus sudah dipanggil pilot oleh kedua kakaknya. Anak terakhir dari tiga bersaudara itu, memang bercita-cita menjadi pilot, pilot pesawat tempur. Karena cita-citanya itu, Imran remaja suatu saat nekat bolos sekolah hanya untuk melihat pesawat. Bahkan sampai haru membohongi orang tua saat mendaftar taruna Akabri Udara.
“Saya lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat. Saya besar sampai SMA di Padang. Mendaftar taruna Akabri udara tahun 1984, karena memang ingin menjadi pilot pesawat tempur,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (20/11) lalu.
Ia merasa sangat bangga saat menjadi satu-satunya putra Sumbar dari 18 siswa yang lulus seleksi TNI Angkatan Udara. Pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AAU) tamat tahun 1988, lanjut ke sekolah penerbang di Lanud Adisutjipto, dan selesai pada tahun 1989. “Lulus jurusan tempur, persis sesuai keinginan saya,” ungkapnya.
Selepas lulus, kedinasan pertama adalah di Lanud Iswahjudi Madiun. Saat itu leting 1988 yang lulus penerbang tempur ada 4 orang, dia menjadi salah satu yang jadi pilot pesawat Skyhwak.
Berturut-turut, dia pernah bertugas di Lanud Pekanbaru Riau, Lanud Hasannudin dan kembali ke Jogjakarta saat menjadi instruktur penerbang pada 1995.
Lalu dia sempat kembali ke Pekanbaru sebagai Danflightops C Flightlat Skadud 12 wing 6 Lanud Pekanbaru. Sebelum akhirnya berpindah ke Lanud Supadio Pontianak. Kemudian pada 24 Februari 2010 dia menjabat sebagai Danlanud Supadio Pontianak.
Lalu promosi menjadi Pamen Koopsau I, Dostun Gol IV Seskoau, Asops Kas Koopsau II, Koorsmin Kasau dan Kadiswatpersau pada 22 September 2014. “Kemudian turun perintah dari Mabes AU, April 2015 saya dilantik sebagai Danlandud Adisutjipto,” terangnya.
Saat harus pindah tugas ke Jogja, ia mengaku sudah tidak asing lagi. Sebab saat jadi taruna sekolah penerbang sampai dengan instruktur, semuanya di Jogja. “Kalau orang lain ke Jogja untuk wisata, kami untuk dinas. Dinas sambil wisata, sehingga sudah tidak asing. Jogja ini kampung kedua, kampungnya AAU,” ujarnya.
Menoleh ke belakang, dia merasa sangat bersyukur, cita-citanya sebagai pilot pesawat tempur telah tercapai. Terlebih, kini dia bertugas di tempat lahirnya AAU. Padahal, ia menceritakan, saat mengungkapkan keinginannya sebagai pilot tempur sempat tidak direstui orang tuanya.
“Saat SMP, saya senang mereka-reka nama saya sendiri. Kelak saya ingin jadi mayor penerbang. Suatu ketika saat itu ada pesawat Skyhawk ada di Padang. Saya sampau nekat minta diantar sopir, membolos untuk dapat melihat pesawat,” kenangnya.
Memasuki SMA, keinginan menjadi pilot pesawat tempur semakin kuat. Setelah lulus, ia mengaku sampai sembunyi-sembunyi saat mendaftar dan tes masuk tentara. Bahkan, sampai tiga hari menjelang keberangkatan, ia baru buka mulut dengan sang ibu.
“Orang tua saya semua pegawai. Ibu saya guru, ayah saya PNS. Waktu itu, Senin harus berangka ke Magelang, Jumat saya baru beritahu ibu saya. Kebetulan ayah tidak berada di rumah, karena sedang pendidikan di luar negeri. Akhirnya ibu saya tidak punya pilihan,” ujarnya tertawa.
Meski merelakan anak bungsunya menjadi tentara, sang ibu masih selalu membujuknya untuk pulang.
“Kakak tertua saya, sekolah di Padang, kakak kedua di Universitas Padjadjaran Bandung. Orang tua ingin semua anaknya kerja kantoran. Tetap saja saat mengantar saya berangkat ke Magelang, dia pesan, kalau sudah masuk jangan lupa kirim surat, kalau sakit nanti minta jemput suruh pulang,” katanya.
Dia menambahkan, cukup wajar apabila orang tua mengkhawatirkan anak-anaknya. Terlebih, menerbangkan pesawat tempur mengandung risiko tinggi. Namun ia mengatakan, terbiasa dengan aktivitas yang memacu adrenalin.
“Saat pertama menerbangkan pesawat, rasanya mau teriak sekencang-kencangnya. Perasaan semua berkecamuk antara terharu dan bangga. Hasil kerja susah payah sendiri akhirnya tercapai,” ungkap putra pasangan Baidirus Danial dan Martha itu.
Meskitelah melampaui hampir 4 ribu jam terbang, sang ibu masih tetap khawatir. Setiap pulang ke Padang, sang ibu tak henti-hentinya mengingatkan. “Ketika saya sudah terbang menggunakan Skyhawk sejak di Pekanbaru atau kegiatan terbang ke Padang, selalu lewat atas rumah. Setiap pulang selalu ditanya ibu saya, ‘masih terbang? Bolehlah terbang tapi jangan kencang-kencang. Ternyata masih selalu khawatir,” tuturnya. (riz/jko/ong)