MENJADI sebuah kebanggan bagi Marsma TNI Imran Baidirus SE saat dipercaya menjabat sebagai Danlanud Adisutjipto. Menurutnya, hal itu bagian dari pembinaan karir tentara. Ada tahapan dan penugasan panjang sebelum menerima tugas itu.
“Tidak tiba-tiba, tapi dibekali dari letnan satu, perwira menengah, perwira tinggi. Jadi ada tahapan yang dilewati. Semua berkesinambungan, bertahap, bertingkat dan semua terukur. Syaratnya harus membuka diri. Mengikuti perkembangan dan jangan berhenti belajar,” terangnya saat menerima Radar Jogja belum lama ini.
Ketika saat ini menjabat sebagai Danlanud, menurutnya, itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. “Ketika saya ditugaskan sebagai Danlanud, ini tanggung jawabnya tidak main-main. Di sini ada sekolah penerbang. Siswanya juga banyak. Kalau mereka belum selesai turun dari pesawat, saya belum tenang, belum bisa tidur. Landing aman baru saya lega,” ungkapnya.
Sekali penerbangan, kata Marsma Imran, risikonya sangat tinggi. Di AAU, ada sekitar 80-90 penerbangan setiap harinya. Semua yang bertugas,d ia mengibaratkan harus tidak boleh tidur, sebab risikonya tinggi. “Terlalu mahal biayanya kalau tidak hati-hati,” jelasnya.
Di samping itu, ia juga masih mengerjakan tugas-tugas staf. Memikirkan bagaimana pembinaan personel dan kesejahteraan anggota. Selain itu, dia juga harus menghormati protokoler di Jogjakarta. “Ini kampungnya TNI AU, angkatan udara Indonesia dibentuknya di sini. Ini rumah keduanya, semua orang AAU pasti merasa seperti itu. Pasti akan selalu ingin kembali ke Jogja,” tandasnya.
Sebagai Danlanud Adisutjipto dan bertugas di daerah seperti Jogjakarta, dia mengaku harus selalu dapat menempatkan diri. Melayanibanyak orang, menjadi pelayan bagi anak buahnya, dan selalu meningkatkan kinerja institusi.
“Inilah spesifiknya Lanud Adisutjipto dibanding lainnya. Kalau di Jogja banyak sekali orang penting yang datang ke sini, baik untuk dinas atau urusan lain, liburan misalnya. Apa pun kepentingan mereka datang ke Jogja, saya harus siap,” tegasnya.
Ia memberikan resep, bahwa menjalankan pekerjaan harus dicintai. Agar nantinya dapat diberikan keberkahan dan hasil yang baik. Karena itu, selama hampir setahun bertugas, dia tidak merasakan dukanya pekerjaan.
“Semuanya senang kalau bekerja dengan hati, mencintai kerja kita. Kalaupun capek, begadang itu bagian dari risiko pekerjaan. Bagi saya, dimana pun ditugaskan, saya totalitas mencintai pekerjaan saya,” tandasnya. (riz/jko/ong)