JOGJA – Suwadi, 45, mengatakan, melalui pendidikan manusia dapat merekayasa masa depan dan an melalui pendidikan pula takdir manusia dapat berubah. Karena itu, pendidikan perlu direncanakan supaya peradaban semakin baik, takdir manusia bisa berubah lebih baik dan masa depan generasi juga semakin baik.
“Kita perlu mengoptimalkan pendidikan yang sampai saat ini belum banyak dipikirkan oleh para pengelola pendidikan adalah potensi dan aktualisasi modal sosial,” kata Suwadi saat ujian promosi doktor di kampus UIN Sunan Kali Jaga, kemarin (2/12).
Menurut Suwadi, modal sosial berupa pemberdayaan jejaring (Network) untuk membangun kepercayaan, relasi-relasi akan muncul timbal balik yang saling menguntungkan dan saling membantu. Melalui jejaring, relasi-relasi sosial yang saling membantu dan saling menguntungkan, sekolah-sekolah dapat menfasilitasi dan menjawab kebutuhan, serta tuntutan sekolah, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung efektif, dan sekolah memiliki vitalitas yang tinggi.
Sayangnya, hingga saat ini masih banyak sekolah yang belum memanfaatkan dan mendayagunakan modal sosial. Banyak pengelola sekolah, yang harusnya dimotori kepala sekolah belum mampu mengidentifikasi modal sosial secara optimal dalam mendukung kinerja sekolah. Akibatnya fungsi sekolah sebagai agen perubahan, kebutuhan hidup, fungsi sosial, pemberi arah, pertumbuhan, konservasi dan kemajuan belum berjalan maksimal.
“Ada sekolah yang mampu mengidentifikasi modal sosial tetapi belum optimal dalam mendayagunakannya untuk meningkatkan vitalitas sekolah. Namun, ada pula sekolah yang belum optimal dalam mengidentifikasi dan mendayagunakan modal sosial, sehingga vitalitas sekolah juga tidak meningkat,” terang Suwandi.
Selain itu, ada sekolah yang mampu mengidentifikasi dan mendayagunakan modal sosial dengan baik, sehingga vitalitas sekolah juga semakin meningkat. Dari tiga analasis tersebut membuktikan bahwa pola pikir kepemimpinan dan pengelola sekolah sangat mempengaruhi pendidikan di sekolah tersebut.
“Nilai universalisme Islam memiliki dampak positif. Sebab, nilai silaturahmi, syafaat hingga universalisme Islam terbukti efektif untuk menyuburkan, meningkatkan, dan mendayagunakan potensi modal sosial sekolah,” terangnya.
Dari penelitian tersebut ia berharap, pengelolaan sekolah terutama sekolah sekolah swasta yang mandiri supaya menjaga kepercayaan masyarakat, vitalitas sekolah terus membaik, dan mutu pembelajaran semakin baik pula.
“Pimpinan sekolah harus bekerjasama dengan semua staf dan pengelola sekolah dan stakeholder perlu membina komunikasi yang baik serta memberdayagunakan modal sosial yang dimiliki sekolah bersangkutan semaksimal mungkin,” harap Suwadi. (mar)