Oleh; Kusno S Utomo
Redaktur Senior Radar Jogja

Suksesi Pura Pakualaman (8)

PERJALANAN suksesi Kadipaten Pakualaman tidak semuanya berjalan mulus. Sebagaimana telah dikupas di tulisan-tulisan sebelumnya, setiap Paku Alam yang akan jumeneng alias bertakhta proses politiknya berlainan.
Bahkan, sumber rekrutmen atau pangeran yang akan dinobatkan sebagai Paku Alam cenderung tidak konsisten. Paku Alam yang bertakhta tidak selalu anak dari adipati yang jumeneng sebelumnya. Lihat saja pengalaman Paku Alam IV. Dia naik takhta menggantikan pamannya Paku Alam III.
Paku Alam IV juga bukan putra mahkota dari Paku Alam III. Dia merupakan keponakan dari Paku Alam III. Ayahnya adalah KPH Kolonel Nataningprang, putra mahkota Paku Alam II yang urung dikukuhkan sebagai adipati karena keburu meninggal setahun sebelum ayahandanya wafat.
Kolonel Nataningprang adalah kakak dari Paku Alam III. Mereka lahir dari garwa padmi atau permaisuri Paku Alam III. Nama ibunya adalah Gusti Kanjeng Ratu Ayu, putri Sultan Hamengku Buwono II.
Demikian pula Paku Alam V. Dia bukan anak dari Paku Alam IV. Tapi justru merupakan paman dari Paku Alam IV. Paku Alam V adalah anak dari Paku Alam II yang lahir dari garwa selir alias bukan permaisuri.
Sebagai permaisuri Paku Alam II, GKR Ayu memegang peran penting dalam suksesi pascawafatnya sang suami. Selain dia, ada tokoh perempuan lain di Pakualaman yang ikut mempengaruhi proses suksesi. Dia adalah Gusti Kanjeng, permasuri Gusti Pangeran Haryo (GPH) Kolonel Nataningprang, putra mahkota alias calon Paku Alam III yang urung dikukuhkan.
Berdasarkan sejarahnya, Gusti Kanjeng ini merupakan putri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Mangkudiningrat. Dalam buku berjudul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro & Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855, disebutkan Mangkudiningrat adalah putra tersayang Sultan Hamengku Buwono II.
Pangeran ini ikut mendampingi HB II semasa dibuang ke Penang Malaysia. Makam Mangkudiningrat ini berada di samping HB II di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede. HB II menjadi satu-satunya raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang tidak dimakamkan di Imogiri.
Kembali ke Gusti Kanjeng, sepeninggal suaminya, dia dinikahi adik suaminya yang bertakhta sebagai Paku Alam III. Statusnya adalah sebagai permaisuri. Dari perkawinan Paku Alam III dengan Gusti Kanjeng, lahir seorang anak perempuan bernama Gusti Timur.
Paku Alam III tak lama berkuasa. Sepeninggal Paku Alam III, pengaruh GKR Ayu dan Gusti Kanjeng ini sangat kuat. Betapa tidak, untuk mencari pengganti Paku Alam III tidak diambilkan dari anak laki-lakinya. Tapi yang dipilih justru cucu GKR Ayu. Yakni RM Nataningrat, putra Gusti Kanjeng semasa menjadi permaisuri Kolonel Nataningprang.
Paku Alam IV meninggal dalam usia muda di bawah 40 tahun. Adipati yang makamnya ada di Kotagede itu digantikan paman tirinya, KPH Suryodilogo, putra Paku Alam II. Sebagai penguasa baru, Paku Alam V kembali memilih Gusti Kanjeng sebagai permaisuri.
Dengan demikian, Gusti Kanjeng ini menikah untuk kali ketiga dan semuanya berstatus sebagai permaisuri. Pertama, dia menjadi permaisuri Kolonel Nataningprang. Kedua, menjadi permaisuri Paku Alam III, dan ketiga dinikahi Paku Alam III dengan kedudukan tetap sebagai garwa
padmi adipati.

Dari perkawinan dengan Paku Alam V ini, Gusti Kanjeng tidak menurunkan keturunan laki-laki. Sebaliknya, putra mahkota Paku Alam V, KPH Notokusumo yang lahir dari istri lainnya menikah dengan putri Gusti Kanjeng, hasil pernikahannya dengan Paku Alam III.
Perkawinan KPH Notokusumo atau Paku Alam VI dengan Gusti Timur ini melahirkan Paku Alam VII atau BRMH Surarjo. Dilihat dari hubungan darah, Paku Alam VII merupakan keturunan Paku Alam III dari garis ibu dan keturunan Paku Alam V dari garis ayah.
Naik takhtanya BRMH Surarjo setelah Pakualaman selama tiga tahun mengalami kekosongan kepemimpinan juga berkat pengaruh kuat Gusti Timur, putri Gusti Kanjeng.
Menilik sejarah itu, ada tiga permaisuri yang banyak memainkan peran dalam sukesi Pakualaman. Kelak setelah Paku Alam VII bertakhta, dia mengangkat GRAy Retno Puwoso, putri Paku Buwono X dari Keraton Surakarta sebagai permaisuri. Peranannya juga kuat mendorong putranya BRMH Suryo Sularso Kunto Suratno sebagai Paku Alam VIII. (bersambung)