YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
UNTUK KEBERSIHAN: Anggota Komisi VII DPR RI Agus Sulistiyono (tengah) saat acara penyerahkan bantuan alat pencacah sampah dan sepeda motor roda tiga angkutan sampah di Balai Desa Sendangadi, Mlati kemarin (1/12).
SLEMAN- Tingkat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai masih tergolong rendah. Minimnya sarana tempat pembuangan sampah di lingkungan pemukiman kerap menjadi alasan. “Masalah ini harus menjadi perhatian bersama dari pusat sampai daerah,” ujar Anggota Komisi VII DPR RI Agus Sulistiyono usai menyerahkan bantuan alat pencacah sampah dan sepeda motor roda tiga angkutan sampah di Balai Desa Sendangadi, Mlati kemarin (1/12).
Sendangadi sengaja ditunjuk sebagai satu di antara 9 kabupaten pilot project mesin pencacah sampah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tersebut. Menurut Agus, masih banyaknya warga di bantaran sungai yang membuang limbah langsung ke aliran air menjadi alasan pemerintah memilih Sendangadi. “Saya juga minta kementerian membuat pelatihan pengolahan sampah kepada warga,” lanjut plitikus PKB itu.
Kelompok warga yang menjalani pelatihan diproyeksikan menjadi embrio bank sampah. Pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos jadi unggulan. Selain produk daur ulang. “Yang jelas, kami mau ingatkan mulai dari hal-hal kecil. Agar tidak mengganggu, sampah diolah supaya bermanfaat,” tandasnya.
Kades Sinduadi Damanhuri membenarkan masih adanya kebiasaan warga membuang sampah di sungai. Untuk mendukung program 2016 bebas sampah dari pemerintah pusat, Damanhuri berencana membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang khusus menangani kegiatan ekonomi berbau sampah.
BUMDes yang akan mengelola bank sampah, mulai menampung limbah, mengolah, hingga memasarkan produk daur ulang. “Itu sudah lama kami rancang. Nanti setelah pilkada realisasinya,” ujar Damanhuri.
Menurutnya, Sendangadi telah memiliki kelompok pengelola sampah. Hanya saja, selama ini ruang lingkupnya kecil. Melalui BUMDes, Damanhuri bermaksud mengorganisasi semua pengelolaan sampah dari hulu ampai hilir yang melibatkan lebih banyak kelompok pengelola sampah.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Sleman Purwanto mengaku cukup kesulitan menelusuri embuang sampah di sungai. Pelaku diduga belum tentu warga setempat.”Bisa jadi orang lain lewat pinggir sungai sambil lempar sampah,” katanya.
Menurutnya, mendorong masyarakat menelola bank sampah menjadi solusi bijak dibanding mencari pembuang sampah liar untuk dihukum. Kendati begitu, pemkab telah menerapkan denda tertentu bagi pembuang sampah liar yang ketahuan.(yog/din/ong)