SURVIVOR: Magdalena Diah Utami usai menjadi pembicara dalam sosialisasi peringatan hari AIDS di Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) DIJ, Selasa (1/12).

Awalnya Sempat Bingung, tapi Akhirnya Bisa Move On

Mengetahui menderita HIV bukanlah hal yang mudah dihadapi. Terlebih menjadi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang berada di tengah-tengah masyarakat. Tentunya tantangannya menjadi dua kali lipat. Mengingat stigma negatif masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS masih ada.
RIZAL SN, Sleman
DIVONIS menderita human immunod-eficiency virus (HIV) bukanlah halangan untuk melanjutkan hidup dengan normal dan berbuat baik bagi sesama. Hal itulah yang kini dijalani oleh Magdalena Diah Utami, 38. Magda, sapaannya, sudah de-lapan tahun ini terinfeksi virus yang me-nyerang sistem kekebalan tubuh itu.
“Anak saya yang pertama juga positif. Tapi yang nomor dua negatif. Itu mem-buat saya semakin yakin kalau hidup itu tidak selesai ketika kita terinfeksi HIV. Bukti-nya anak kedua bisa negatif meski ibunya positif,” katanya di sela menjadi pembi-cara dalam sosialisasi peringatan hari AIDS di Kantor Dinas Perhubungan, Komuni-kasi, dan Informatika (Dishubkominfo) DIJ, Selasa (1/12)
Semula, Magda tidak tahu jika dia terinfeksi HIV. Penyakit itu diketahui ketika anak pertamanya mengalami sakit keras hingga diare kronis. Saat dibawa ke rumah sakit, Magda disarankan untuk menjalani tes HIV. Saat itulah, dia baru mengetahui bahwa virus HIV sudah menjangkitinya.”Saya dan suami ikut tes, ha-silnya positif. Anak pertama saya juga positif,” ujarnya.Saat itu, Magda sempat bingung, tak tahu harus bagaimana. Dia merasa takut untuk berterus terang kepada keluarganya terkait kon-disinya. “Tapi akhirnya saya mem-beranikan diri untuk cerita ke keluarga,” ujarnya.
Selama delapan tahun, sejak 2008, Magda dan anak pertama-nya harus mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara rutin untuk menghambat per-kembangan virus. Sementara sang suami sudah dipanggil Tuhan beberapa waktu lalu. “Untungnya keluarga terus mem-berikan support,” terangnya.
Sejauh ini, Magda mengaku bisa menjalani hidup dengan normal. Dia tidak merasa takut lagi, begitu pula sang anak yang sudah pintar menjaga diri. “Dia tahu makanan bergizi dan tidak sembarangan jajan di sekolah,” ungkapnya.
Magda pun meyakini, jika dia bisa menjadi seseorang yang bermakna bagi orang lain di se-kitarnya meski hidup dengan HIV. Dia berkomitmen untuk memu-tus mata rantai virus tersebut. Dia menyadari, kehadirannya bisa bermakna bagi orang lain. “Hidup tidak selesai begitu kita terinfeksi HIV. Harus move on. Harus menyadari kalau hidup kita itu bermakna,” tandasnya.
Dengan masih adanya stigma negative terhadap ODHA, dia berharap terus dilakukan edu-kasi kepada masyarakat. Sebab, hal itu juga memberikan andil menekan penularan HIV/AIDS. Menurutnya, sebagian ma syarakat masih memiliki pandangan buruk. Di benak mereka, jika seseorang sudah terinfeksi HIV pasti bakal mati. Sebagian lagi berpandangan, kalau terinfeksi HIV pasti orang tersebut melakukan tindakan yang tidak benar. Padahal tidak selalu seperti itu.
“Prinsip dasar saja deh, HIV menular karena seks tidak aman, jarum suntik yang tidak steril, dan tertular dari ibu yang posi-tif ke anak. Karena itu edukasi yang benar di masyarakat sang-at penting,” lanjutnya.
Dia merasakan, sampai saat ini, edukasi yang dilakukan ma-sih kurang merata di masyarakat dan tidak terlalu komprehensif. “Seperti tadi, stigma kalau pakai kondom pasti seks bebas. Pada-hal tidak juga. Stigma itu cukup memberatkan,” ujarnya.
Magda masih mengharapkan kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia mengenalkan HIV/AIDS secara detail. Tetapi saat ini, penyampaian informasi terkait HIV/AIDS masih terbatas. Masuk dalam pendidikan jasmani dan biologi, serta ekstrakuri kuler saja. “Jelas masih terbatas, hanya beberapa jam pelajaran, pada-hal informasi itu harus terus menerus,” ujarnya.
Selain itu, dia juga berharap tes HIV kepada ibu hamil dapat di-wajibkan. Sehingga apabila si ibu terinfeksi HIV dapat secara dini ditangani. “Sekarang kan baru sebatas disarankan. Jika diketahui mengidap HIV, anak yang terlahir dapat sehat. Dengan begitu bisa memutus mata rantai penularan,” terangnya. (ila/ong)