SLEMAN – Terdakwa kasus pelanggaran hak cipta Nur Winantyo, membantah semua tuduhan yang dialamatkan oleh PT Nonbar pada dirinya dan manajemen hotel. Bantahan ini disampaikannya di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Selasa (1/12) pagi di depan jaksa Meyer Simanjuntak dan majelis hakim yang diketahui Dr.Yanto dalam sidang pemeriksaan terdakwa.
“Kami tidak pernah melaksanakan nonton bareng (nonbar) di hotel, karena tayangannya dini hari. Dari segi bisnis saja sungguh merugikan, jadi tidak mungkin saya melanggar hak cipta,” ujarnya menjawab pertanyaan jaksa terhadap tuduhan dalam surat dakwaan.
Namun, jaksa yang yakin dengan surat dakwaan, kembali menanyakan perihal sosialisasi dan somasi yang dialamatkan ke terdakwa selaku general manager (GM) hotel. Jaksa juga membacakan dua somasi yang dikirimkan PT Nonbar pada terdakwa, karena sudah dianggap melakukan pelanggaran dengan menayangkan siaran sepak bola Piala Dunia 2014 di kamar hotel.
Menurut jaksa, sesuai dengan sosialisasi yang diterangkan saksi di pengadilan, menayangkan siaran sepak bola di hotel berbintang empat di kamar juga merupakan pelanggaran.
“Waktu sosialisasi tidak pernah disampaikan hal semacam itu. Yang ada, waktu itu saya diberitahu marketing saya, kalau mau nonbar harus bayar Rp 40 juta, makanya saya tidak menginstruksikan ada acara nonbar. Kalau yang di TV kamar itu merupakan layanan dan fasilitas, bukan nonbar,” jawabnya.
Selanjutnya sidang akan memasuki tuntutan oleh jaksa. Hakim memberikan waktu satu minggu untuk jaksa dalam menyusun surat tuntutan. Terdakwa didakwa melanggar pasal 113 tentang hak cipta.
Kasus ini bermula saat terdakwa tidak mengindahkan imbauan dari PT Nonbar bahwa untuk menayangkan acara Piala Dunia Brasil 2014 di hotel harus meminta izin terlebih dahulu. Pasalnya PT Nonbar bersama PT ISM adalah pemegang lisensi nonton bareng. Dalam surat dakwaan juga diketahui bahwa tidak meminta izin penayangan siaran Piala Dunia. (riz/jko/ong)