JOGJA – Pembangunan fisik di Kota Jogja selama setahun pada 2015 ini, akhirnya membawa korban. Empat perusahaan konstruksi yang menggarap proyek di Kota Jogja masuk dalam daftar blacklist (Daftar Hitam). Beruntung, keempat perusahaan tersebut bukan dari Kota Jogja.
Kepala Bagian Pengendalian Pembangunan (Dalbang) Sekretariat Kota (Setkot) Jogja Waseso mengakui adanya empat perusahaan yang telah mereka masukkan dalam blacklist tersebut. Keempat perusahaan itu masuk daftar hitam karena berbagai kesalahan.
“Ada yang tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kontrak. Juga ada yang tidak sesuai spesifikasi,” katanya.
Ia menuturkan, keempat perusahaan yang masuk dalam daftar blacklist tersebut otomatis tak bisa mengikuti lelang lagi. Baik itu di Kota Jogja maupun lelang lain yang menggunakan lelang pengadaan sistem elektronik. “Itu berlaku di seluruh Indonesia,” imbuhnya.
Jika pun keempat perusahaan tersebut mengikuti lelang, tetap tak akan diproses. Artinya, mata pencaharian perusahaan itu juga ikut mati. Soal masa waktu berada di daftar hitam, Waseso menjawab, tak pasti. “Ada yang lima tahun, ada juga yang hanya tiga tahun,” ujarnya.
Dari daftar blacklist di LPSE, hanya ada satu perusahaan yang dalam daftar hitam. Perusahaan PT Tegas Arta Kencana dengan Direktur Utama Widayati Amd masuk dalam daftar hitam. Perusahaan tersebut tak bisa mengikuti lelang sejak 17 Desember 2013 sampai dengan 16 Desember 2015.
Sikap tegas Pemkot Jogja memasukkan empat perusahaan konstruksi dalam daftar hitam mendapatkan sambutan positif. Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kota Jogja Suharsoyo menilai langkah pemkot patut mendapatkan apresiasi.
“Kalau memang wan prestasi ya blacklist,” tandasnya, kemarin (1/12).
Ia menuturkan, dengan sistem lelang elektronik seperti saat ini, keberadaan pengusaha hitam tersebut memang kerap menimbulkan masalah. Mereka dengan berani menawarkan harga yang rendah. Tapi, komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi juga sama-sama rendah.
“Banyak pengusaha lokal yang sebenarnya mampu. Tapi karena kalah dengan harga yang peserta lelang lain, sehingga tidak mendapatkan pekerjaan,” sesalnya.
Ia mengatakan, jika dihitung penawaran yang diajukan pengusaha kontruksi hitam itu tak masuk akal. Sebab, mereka berani menawar sampai lebih dari 20 persen harga yang telah ditetapkan. “Tidak masuk akal kalau dihitung sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapakan,” katanya. (eri)