RIZAL SN/RADAR JOGJA
CEK DARAH: Puluhan sopir dan kru angkutan darat melakukan tes Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau tes HIV secara sukarela di kantor Dishubkominfo DIJ, Selasa (1/12).
SLEMAN – Puluhan sopir dan kru angkutan darat melakukan tes Voluntary Coun-seling and Testing (VCT) atau tes HIV/AIDS secara sukarela. Pemeriksaan dilakukan di Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) DIJ, Selasa (1/12)
Satu per satu dari mereka di periksa darahnya oleh petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ. Pemeriksaan tersebut me rupakan kerja sama Dishub kominfo, Din-kes, dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIJ. Sekretaris KPA DIJ Riswanto mengatakan, sektor transportasi termasuk salah satu kelompok yang berisiko tinggi terpapar HIV. Termasuk juga da-lam jaringan mata rantai penu-larannya. “Dalam penanggulangan HIV/AIDS, dikenal istilah kelompok 3M, yaitu Man, Mobile with Money. Makanya, sasaran kita perwakilan sopir dan angkutan di DIJ,” katanya.
Dia berharap, dengan pema-haman yang benar mengenai HIV/AIDS, para pekerja trans-portasi dapat berperilaku sehat. Sehingga terhindar dari penu-laran virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia ini.Hal senada diungkapkan Kepala Dishubkominfo DIJ Sigit Haryanto. Menurutnya, melihat realita yang ada, pekerja trans-portasi rawan terkena HIV. Hal itu, kata Sigit, karena mereka terus mobile, serta jarang pulang ke rumah dalam perjalanan panjang.”Bisa saja berhenti di sembarang tempat, jadi ini kan potensial untuk penyebaran HIV,” ungkapnya.
Sigit mengungkapkan, kali ini Dishub DIJ ditunjuk untuk mem-berikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya pekerja transportasi untuk berperilaku sehat. Dengan begitu bisa ter-hindar dari HIV/AIDS.Para sopir dan kru angkutan dites dan diberikan imbauan, agar mengikuti anjuran dokter. “Mereka sukarela, kita berikan imbauan kepada PO untuk me-ngirim wakilnya ikut tes dan seminar,” terangnya.
Salah seorang sopir bus pari-wisata yang enggan menyebut-kan identitasnya mengaku, ingin melakukan tes VCT ini. Hal itu mengingat masa muda-nya yang pernah berganti- ganti pasangan. “Saya sudah menikah sekarang. Ikut tes untuk cek kesehatan saja. Syukur hasilnya negatif. Ya dulu pernah ber-hubungan dengan beberapa perempuan,” ungkapnya.

Angka Penderita Usia Produktif Masih Tinggi

Sementara itu, dari catatan KPA DIJ sejak tahun 1993 hingga September 2015, orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di DIJ mencapai angka 3.146. Dari angka itu, yang sudah masuk fase AIDS ada 1.249. Sekretaris KPA DIJ Riswanto menjelaskan, tahun 2015, jum-lah penambahan ODHA ber-kurang dari tahun sebelumnya. Pada 2014 penambahan ODHA mencapai 532.
Sedangkan tahun ini jumlah ODHA menurun menjadi 311 orang. Berdasar pada data tersebut, Riswanto menilai, penambahan ODHA sudah mulai bisa diken-dalikan. Hal itu berkat beberapa pihak yang peduli dengan penanganan HIV. Meskipun begitu, dia masih prihatin me-lihat angka penderita usia pro-duktif yang masih tinggi.
Data dari KPADIJ, rentang usia ODHA yang paling banyak yai-tu usia 20 hingga 29 tahun. Yakni sebanyak 965 penderita. Semen-tara dari jenis pekerjaan ODHA didominasi dari kalangan wiraswasta yaitu 601 orang. Kedua, ibu rumah tangga (IRT) ada 401 orang, kemudian buruh kasar ada 233, dan mahasiswa 214 orang. “Ini yang menjadi konsentrasi kita,” ungkapnya.
Riswanto menjelaskan, angka meninggal dunia ODHA sejak tahun 1993 hingga sekarang mencapai 272 orang. Sedangkan lainnya, bisa hidup dengan nor-mal hingga sekarang. Riswanto menegaskan, yang perlu dipahami, ODHA bisa hidup dengan normal asalkan mau hidup tertib menjaga kesehatan. Pada dasarnya virus ini menyerang kekebalan tubuh, sehingga jika sistem imun bisa terjaga dengan pola hidup sehat, tentu tetap bisa beraktivitas seperti biasa.Dia mengimbau masyarakat untuk tidak menjauhi ODHA. Sebab ODHA sama halnya dengan orang biasa. “Virus itu hanya bisa menular lewat hubungan seks atau air mani, cairan darah, cairan vagina, dan air susu ibu. Selebihnya tidak. Justru kita ha-rus memberikan support, jangan dijauhi,” pesannya.
Untuk memeriksakan seseorang teridap HIV atau tidak, katanya, hanya dapat diketahui dengan tes VCT. Di DIJ telah ada 44 kli-nik konseling sukarela yang berada di rumah sakit dan pus-kesmas. Sejumlah rumah sakit di DIJ juga memberikan pera-watan terhadap penderita HIV/AIDS. Di antaranya, RSUP dr Sardjito, RS PKU Muhammadi-yah, RS Panti Rapih, RS Bethes-da, RS Jogja. Juga RS Panemba-han Senopati Bantul, RSUD Sleman, RSUD Wates, dan RSUD Wonosari. (riz/ila/ong)