MESKI hanya sebagai office boy dan penjaga malam, Witarno, 36, dikenal cukup dekat dengan para mahasiswa AKRB. Tak he-ran ke sedihan juga dirasakan oleh be berapa mahasiswa yang akrab dengan warga asal Kedungan 1, Sambeng, Boro-budur, Magelang itu. Salah satunya dirasakan oleh Ayub Rohede, 20, mahasiswa Jurusan TV Radio ini mengaku sering ditunggu oleh Tarno, sa-paan Witarno. Sebab, biasanya dia liputan sampai malam hari
Padahal mahasiswa diwajibkan mengembalikan alat pukul 18.00 WIB. “Tapi Mas Tarno satu-satunya orang yang menunggu, kami biasa SMS dan WA-nan. Janjian. Dia juga tidak mempersulit, bahkan ba-nyak membantu kami,” kata Ayub.Menurutnya, Tarno, merupakan pribadi yang ramah dan senang membantu mahasiswa yang kesulitan. “Dia selalu memban-tu kalau kami harus lembur. Dia menunggu di depan. Karena itu, dengan peristiwa ini, kami sangat kehilangan,” ungkapnya.Hal yang sama diungkapkan Anggita Rahmawati. Menurutnya, korban tidak pernah menolak saat dimintai bantuan. “Dia biasa jadi talent di web series. Kami merasa sangat dibantu,” terangnya.
Korban juga dikenal supel. Saat bertemu dengan siapa saja, kor-ban duluan menyapa. “Dia tidak pernah lupa menyapa. Tiap hari dia ramah dan manggil. Dia baik banget, paling ngerti dengan kami yang merupakan anak-anak di lapangan, yang tiap hari kerja lembur,” ujarnya.Tak hanya di lingkungan kam-pus, korban juga dikenal sangat baik oleh keluarganya. Adik kedua korban, Istofik, 29 tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Apalagi, setelah tidak berjumpa hampir sebulan, kakaknya di-temukan sudah tidak bernyawa.”Sudah sebulan kami tidak berjumpa. Ketemu-ketemu, su-dah meninggal dalam kondisi begini,” katanya kepada Radar Jogja di halaman kampus AKRB.
Mengingat sosok kakaknya itu, dia lalu terdiam. Air matanya keluar dan suaranya jadi parau. Menurutnya, kakak keduanya itu tidak pernah mempunyai musuh atau suka mencari masalah. “Kesehariannya biasa. Tidak neko-neko. Orangnya kecil, ku-rus, anteng, menengan, ngalahan, kok ada yang tega sampai mem-bunuhnya,” ujarnya sambil kembali terisak.
Beberapa waktu sebelumnya, kakaknya yang masih membujang itu tidak pernah bercerita jika sedang memiliki masalah. “Seingat saya, kakak tidak pernah bercerita ten-tang permusuhan. Menurut saya, dia memang tidak punya musuh. Dia orangnya anteng,” kenangnya.Di tempat yang sama, Ngab-sori, 30, adik korban yang lain mengatakan, kakaknya me rupakan pribadi yang tidak pernah aneh-aneh. Diakuinya, keluarga tidak merasakan firasat apa-apa. “Kemarin Sabtu (28/11) pulang ke Magelang, ada kerabat yang nyewu. Dia ikut bantu-bantu juga. Malam Senin saya antar jam 22.00,” kata pria yang sehari-hari tinggal di Jalan Kaliurang, Sleman itu.Korban memang sehari-hari menjadi bagian umum di kampus yang berada di barat Jembatan Janti itu. Tarno sudah bekerja di kampus AKRB sejak lembaga pen-didikan multimedia itu masih be-rada di Lowanu, Umbulharjo, Kota Jogja. “Sudah lama, sepuluh tahunan mungkin,” ujar Ngabsori.
Korban yang masih tinggal di Kedungan 1, Sambeng, Borobudur Magelang itu banyak menghabis-kan waktunya di kampus. “Kalau masuk pagi membuat minum untuk dosen, bersih-bersih, ya office boy lah. Kalau malam ya jadi pen-jaga malam,” sambungnya.Ngabsori masih belum percaya jika kakaknya menjadi korban penganiayaan hingga tewas. Ia mendapat kabar sekitar pukul 08.15 WIB dari pihak kampus. “Dihubungi, kok belum dibuka gedungnya, dikira masih di kam-pung. Karena yang biasa antar jemput kan saya. Kakak saya ndak bisa naik motor,” ungkapnya.Dia mengaku tidak melihat kondisi kakaknya, meski diper-silakan masuk ke TKP. Ngab-sori hanya melihat kaki kakaknya yang sudah terbujur kaku ber-selonjor. “Tidak bisa lihat semua,” sebutnya. (riz/jko/jiong)