Oleh; Kusno S Utomo
Redaktur Senior Radar Jogja

Suksesi Pura Pakualaman (7)

LAHIR dari garwa padmi atau permaisuri tak menjamin Bendara Raden Mas Harya (BRMH) Surarjo mulus menduduki takhta Kadipaten Pakualaman. Putra KGPAA Paku Alam VI dengan Gusti Timur menghadapi sejumlah halangan.
Pemerintah Belanda awalnya tak menyetujui pangeran berusia 19 tahun itu mengepalai Kadipaten Pakualaman. Saat ayahandanya wafat 1902, Surarjo masih menempuh pendidikan Hogere Burgerschool atau disingkat HBS di Semarang.
HBS merupakan pendidikan menengah umum zaman Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi. Bahasa pengantar di HBS adalah bahas Belanda. Masa studi HBS berlangsung selama lima tahun atau setara dengan MULO (SMP) ditambah AMS (SMA).
Selama belum diangkat Paku Alam VII, maka di Pakualaman dibentuk pemerintahan sementara. Seperti telah disinggung di tulisan sebelumnya, KPH Sasraningrat, putra Paku Alam III, ditunjuk menjadi pelaksana harian (Plh) Adipati Paku Alam.
Tugas Sasraningrat sebagai Plh ternyata hanya seumur jagung sekitar setahun. Dia dibebastugaskan dari kepala pemerintahan sementara Kadipaten Pakualaman. Setelah tugas sebagai Plh berakhir, Belanda memberi tahu Surarjo akan diangkat sebagai Paku Alam VII setelah studinya selesai. Untuk menyelesaikan pendidikan di Semarang, Surarjo masih membutuhkan waktu selama tiga tahun.
Selama tiga tahun 1903-1906 di lingkungan Pakualaman dibentuk Dewan Perwalian. Sebagai ketuanya dipercayakan kepada KPH Notodirojo, putra ketiga Paku Alam V atau masih terhitung paman dari Surarjo. Notodirojo juga merupakan salah satu adik dari Paku Alam VI, ayahanda
Surarjo.
Selama menjabat ketua Dewan Perwalian itu, Notodirojo menyarankan agar keponakannya itu melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia sebelum dikukuhkan sebagai Paku Alam VII. Anjuran itu dipenuhi. Bahkan Surarjo juga sempat menempuh kuliah di afdeeling B Gymnasium Willem III di Jakarta. Kuliah tersebut setara dengan pendidikan Diploma 3.
Tugas sebagai ketua Dewan Perwalian dijalankan dengan baik oleh Notodirojo. Banyak nasihatnya yang diikuti oleh Surarjo. Boleh dibilang masa tiga tahun merupakan proses magang kepemimpinan bagi putra kedua Paku Alam VI tersebut.
Setelah tiga tahun berjalan, pada April 1906, Belanda mengirimkan surat kepada Surarjo yang tengah kuliah di Jakarta agar segera pulang ke Jogja guna mempersiapkan diri menduduki takhta Pakualaman. Surarjo dinobatkan sebagai Paku Alam VIII pada 17 Desember 1906.
Bersamana
dengan pengumuman itu, KPH Notodirojo yang berjasa tiga tahun mengetuai dewan perwalian mendapatkan pangkat mayor bij den Generalen Staf van het Nederlandsch- Indisch Leger. Dia juga mendapatkan bintang “Officier Kruis van de Orde van Oranje Nassau”.
Dengan dinobatkannya Paku Alam VII, Kadipaten Pakualaman menghadapi hari yang cerah. Kepala kadipaten adalah seorang tokoh muda yang mampu memenuhi banyak harapan. Paku Alam VII tidak buta dengan evolusi zaman-zaman di masa datang, tokoh yang mengembangkan kesenian dan pengetahuan Jawa dan tidak menolak kebudayaan barat. Paku Alam VII mendapatkan tempat paling atas di Kadipaten Pakualaman. (bersambung)