DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
KETAT: Pertandingan antara RW Aljamiat (kanan) dan Gayuh Satrio di Kejuaraan Catur Piala Raja ke 5 yang berakhir Minggu malam (29/11) di GOR Amongrogo.
JOGJA-Pecatur DIJ RW Aljamiat menjuarai Kejuaraan Catur Piala Raja ke 5 yang berakhir Minggu malam (29/11) di GOR Amongrogo. Aljamiat harus bertanding sembilan babak lewat Buchholz Tie-Breaks dengan pecatur Jambi MN Hudallah yang sama-sama mengantongi total poin 8. Aljamiat akhirnya unggul tipis dan berhak menyandang gelar juara.Sejak babak awal, persaingan kedua pecatur ini sudah terlihat. Hudallah mampu memimpin klasemen dengan nilai 4 sedangkan Aljamiat di posisi kedua dengan nilai sama. Hasil kemenangan di babak lima, setelah Hudallah menang atas Yoga Pradafa dan Aljamiat menang atas Heru Adfa.
Kedua pecatur akhirnya saling bertemu di babak keenam dan hasilnya remis. Hasil remis ini mengantarkan Aljamiat mampu menggusur Hudallah dari puncak klasemen sementara.Di babak ketujuh, Aljamiat mampu me-ngalahkan Mukhlis Hamidi dan Hudallah juga menang atas MN Wahyu RS. Di babak kedelapan, Aljamiat semakin kokoh dipuncak setelah menang atas Nugraha Yoga. Sedangkan pesaingnya, Hudallah hanya bermain remis dengan Hamdani Rudin sehingga nilai keduanya berubah jadi 7,5 untuk Aljamiat dan 7 bagi Hudallah. Rupanya kemenangan tidak mudah begitu saja diraih Aljamiat.
Di babak sembilan, Aljamiat justru terlena dan hanya bermain remis saat berhadapan dengan Gayuh Satrio. Sedangkan Huddalah, memperkecil ketertinggalan saat berhasil memetik kemenangan melawan Januar Lukito.Sama-sama mengantongi nilai 8, gelar juara akhirnya ditentukan dengan ‘Buchholz Tie-Breaks’. Aljamiat unggul tipis atas Hudallah di tiga ‘Buchholz’ yakni 52,5, 41 dan 30 berbanding 52, 40,5 dan 29,5 yang dimiliki Hudallah. Untuk kemenangan-nya, Aljamiat berhak atas piala tetap dan piala bergilir Sri Sultan HB serta uang pembinaan Rp 12 juta. Sedangkan MN Hudallah mendapatkan hadiah RP 6 jutaPeringkat ketiga hingga kesepuluh ditempati, Hakim Nuh (Jateng/7,5), MN Wahyu RS (DIJ/7), FM Hamdani Rudin (Kaltim/7), Arifa Riski (Jabar/7), Kahfi Maulana (DIJ/7), Gayuh Satrio (DIJ/7), Yusuf (Jabar/7) dan Putra Ikhwan (Kaltim7).
Untuk juara di kelompok putri juara direbut Tri Febriyanti, posisi kedua diraih Dwi Kurnia Pravitasari dan peringkat ketiga ditempati Kurnia Triutariningrum.Sedangkan untuk kelompok junior, pada KU-18 tahun juara direbut Candra Putra Wahyu, KU-15 tahun diraih Sagita Catur Adi, KU-12 tahun dijuarai Muhammad Farhan Aditya, pada KU-10 tahun juara diraih Michael Anggit dan KU-8 tahun juara direbut Kicko Ratri. Untuk junior putri, juara KU-18 tahun Dhea Safitri, juara KU-15 tahun Kusumawati Fenti, juara KU-12 tahun Naura Inayatu, juara KU-10 tahun Ardita Prameswari dan juara KU-8 tahun Armenia Zendi.”Semua pemain memang bertarung sangat ketat sejak babak awal, hampir setiap babak mereka bermain 4 sampai 5 setengah jam. Karena mereka tidak ingin kehilangan satu poin pun,”ujar Ketua Bidang Liga Catur Nasional PB Percasi Bunawan Bong.
Menurutnya, kejuaraan untuk men-dapatkan rating internasional seperti ini harus lebih sering digelar. Karena, kejuara-an ini bukan hanya menjadi kesempatan dewasa untuk mengumpulkan rating, tapi kesempatan bagi pecatur junior untuk menambah jam terbang. “Pemain junior juga yang potensial sudah banyak terlihat. Dari DIJ misalnya Kahfi Maulana, pecatur muda ini juga akan bertarung di Pra- PON catur,”ujar Bunawan. (dya/din/ong)