GUNAWAN/RADAR JOGJA
SEBELUM LAYU: Bunga amarilis dijadikan ikon Kecamatan Patuk sebagai bentuk apresiasi kepada Sukadi yang memiliki ide untuk membudidayakan kembang yang sering juga disebut lili hujan.

Dinobatkan sebagai Puspa Patuk, Jadi Ikon Kecamatan

Seiring semakin terkenalnya kebun bunga amarilis milik Sukadi, membuat warga di Dusun Ngasemayu, Salam, Patuk, Gunungkidul ikut mendapatkan hikmahnya. Mulai dari parkir hingga penjaja makanan. Bahkan bunga ini dinobatkan sebagai ikon kecamatan.
GUNAWAN, Gunungkidul
TAK tebersit sedikit pun di benak Sukadi untuk ingin memiliki kebun bunga yang di-kenal oleh masyarakat luas. Awalnya, warga Dusun Ngasemayu, Salam, Patuk, Gunung-kidul ini hanya berniat menyelamatkan po-pulasi bunga amarilis, karena sering dianggap sebagai gulma atau tanaman pengganggu. Niat baiknya ini kini justru membawa dampak besar bagi warga di sekitarnya. Itu seiring makin terkenalnya kebun bunga miliknya di media sosial (medsos). Memang, dari medsos banyak warga yang akhirnya berbondong-bondong datang ke sana
Dari situ pula, akhirnya kebun bunganya rusak karena terinjak-injak dan diduduki pengunjung yang asyik ber-selfie.”Ladang bunga ini memang tidak dipersiapkan untuk wi-sata. Ya, apa mau dikata sudah terlanjur,” ungkapnya.Namun, dari kejadian buruk itu, Sukadi berniat untuk menata ulang kebun bunganya. Dia berencana membuat jarak agar bisa dilewati oleh pengunjung tanpa mereka harus menginjak-injak bunga yang dikenal sebagai lili hujan ini.”Ada dana hasil kompensasi uang sukarela dari pengunjung. Kemung-kinan akan digunakan untuk pena-taan ladang,” ungkapnya.Ya, untuk masuk ke kebun bunga milik Sukadi memang tak dipungut biaya alias gratis. Namun, warga berinisiatif untuk menyediakan kotak kosong. Nah, pengunjung dipersilakan untuk mengisinya dengan sukarela. “Ada diantara wisatawan yang mengisi kotak hingga ratusan ribu rupiah,” terangnya.
Diakuinya, setelah terkenal di medsos semakin banyak pe-ngunjung yang datang. Sehari rata-rata ada 700 orang yang da-tang. Banyaknya pengunjung yang penasaran dengan mekarnya bunga amarilis yang hanya setahun sekali ini, membawa peluang ekonomi bagi warga sekitar.Secara tidak langsung, pening-katan jumlah wisatawan dadakan ini ikut menaikkan per ekonomian masyarakat setempat. Warga berinisiatif menjual makanan dan minuman. Selain itu, jasa tukang parkir ikut diturunkan supaya keamanan pemilik kendaraan terjaga. Biaya parkir yang dipatok sekitar Rp 3 ribu untuk ken daraan roda dua. Menurut Sukadi, kesempatan masyarakat untuk melihat bunga amarilis ini tinggal seminggu lagi. Sebab, durasi mekarnya bunga yang masuk suku bakung- bakungan ini hanya tiga minggu saja. “Saat ini memasuki minggu kedua sebelum rontok,” terangnya.
Meski begitu, bagi warga yang ingin melihat tetap diminta ke-sadarannya untuk menjaga ke-bun bunga ini bersama-sama. Agar visual bunga ini tetap indah di sisa waktu mekarnya satu minggu ke depan.”Bunga ini dinobatkan sebagai bunga Puspa Patuk. Nama lokal-nya. Nah, bunga puspa patuk ini mekar tinggal satu minggu lagi, kemudian rontok,” tandasnya.Sementara itu, Camat Patuk Haryo Ambar Suwardi merespons cepat booming-nya kebun bunga amarilis tersebut. Dia langsung buru-buru memutuskan bunga Puspa Patuk sebagai ikon Ke-camatan Patuk.”Bunga itu kan, sebelumnya dianggap gulma sehingga ba-nyak yang dibakar. Nah, sekarang agar tidak punah, masyarakat diimbau agar ikut menjaga ke-beradaan amarilis,” kata Ambar.Ambar menuturkan, ide Sukadi membudidayakan bunga Puspa Patuk patut diapresiasi
. Sebagai bentuk dukungan, pihaknya akan segera melakukan penataan ulang. Menggandeng ahli taman, se-hingga lokasi ladang bunga bisa ditata supaya lebih menarik.”Tak jauh dari rumah Sukadi ada warga lain yang membudi-dayakannya walau skala kecil,” terangnya.Terlebih, jenis bunga amarilis di wilayahnya tidak hanya satu, tapi banyak dan penuh warna. Berdasarkan penelusuran, wi-layah yang berbatasan dengan Kabupaten Bantul ini memiliki potensi bunga amarilis untuk dikembangkan.”Ada enam jenis bunga yang sama (amarilis). Nah, ke depan akan kami kembangkan supaya lebih menarik,” tegasnya.
Tidak hanya itu, pemerintah daerah mulai berpikir me-nyiapkan sarana dan prasarana pendukung kebun bunga. Mu-lai dari fasilitas kebersihan hingga MCK. Dengan meng-gandeng pihak terkait, nanti semua akan dilengkapi.Agar perekonomian ikut terke-rek, Ambar menginisiasi warga supaya tidak berdiam diri. Cara-nya, menyajikan menu khas seperti sompil pada pe ngunjung untuk menambah penghasilan warga di sekitar kebun. Sementara itu, sebagai bentuk simpati kerusakan bunga ama-rilis, perwakilan akademika dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta menemui Sukadi, kemarin (30/11). Per-wakilan akademika UGM Heru Marwata menyerahkan bantuan kepada pemilik kebun bunga. Harapannya bisa gunakan untuk memperbaiki kebun bunga yang rusak. (ila/ong)