BANTUL – Bukan hanya PPP, partai sebesar PDIP juga diterpa perpecahan menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) 2015. Ya, ribuan kader dan simpatisan partai ber-lambang banteng moncong putih tersebut memilih membelot dan mendukung pen-calonan Suharsono-Abdul Halim Muslih (Suharsono-Halim). Mereka bergabung dalam Jas Merah. “Jas Merah adalah simpatis-an dan kader PDIP Bantul yang properubah-an,” tegas koordinator Jas Merah Heru Joko Widodo, kemarin (30/11).
Bekas pengurus PAC PDIP Imogiri ini menyebutkan, ada sepertiga kader dan sim-patisan PDIP se-Bantul yang tergabung dalam Jas Merah. Di samping itu, tak sedikit pula bekas pengurus PAC dari 17 kecamatan se-Bantul yang tergabung dalam Jas Merah. “Jas Merah tersebar di seluruh kecamatan. Kami punya perwakilan di setiap kecamatan,” ujarnya.Heru tak mempermasalahkan bila Jas Merah dianggap DPC PDIP Bantul membelot dan menentang perintah partai. Bahkan, mereka juga siap mene-rima sanksi partai. Meski begitu, dia menegaskan, seluruh kader dan simpatisan yang tergabung dalam Jas Merah tetap berideologi PDIP. Bahkan, Jas Merah juga siap balik kandang dan ikut meme-nangkan PDIP pada pileg dan pilpres 2019 mendatang. “Kami tetap sebagai banteng moncong putih pilihan,” tegasnya.
Keputusan Jas Merah mendukung penca-lonan Suharsono-Halim dan bukan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir (Ida-Munir) bukan tanpa alasan. Selain isu perubahan, Jas Merah menilai proses penjaringan bakal calon bupati (bacabup) yang dilakukan DPC PDIP dulu menyalahi AD/ART. Heru menyampaikan, 14 PAC PDIP se-Bantul dulu menyuarakan pencalonan Suharsono saat proses penjaringan bacabup. Seharusnya, bila PDIP mendepankan aspirasi akar rumput otomatis akan memberikan rekomendasi kepada Suharsono. Bukan Ida-Munir. “Jas Merah tunduk ke-pada AD/ART partai,” tandasnya.
Senada disampaikan Basuki Rahmad. Bekas anggota DPRD Bantul dari PDIP periode 2009-2014 ini menyatakan, Jas Merah tidak membangkang dan tidak menolak SK DPP PDIP terkait pencalonan Ida-Munir. “Coba flash back ke 2010,” ucapnya.Menurutnya, pada pilkada 2010 DPP PDIP memberikan rekomendasi kepada pasangan Sri Surya Widati-Sumarno. Tetapi, pada praktiknya DPC PDIP malah meng-ajak mendukung pasangan Kardono-Ibnu Kadarmanto. “Pada saat itu malah mereka yang melanggar. Secara berjamaah mereka mengajak memilih pasangan lain,” sindirnya.
Politikus dari Kecamatan Sanden ini berjanji Jas Merah akan bersama rakyat Bantul untuk memenangkan pasangan Suharsono-Halim. Perubahan di Bumi Projo Tamansari sebagai satu-satunya ala-san. Menurutnya, Jas Merah sepakat bila kader PDIP mencalonkan diri sebagai cabup hingga dua kali sesuai dengan aturan yang berlaku. Hanya saja, bila ada kader yang kemudian meminta anggota keluarganya sebagai suksesornya patut ditolak. Mengingat, masih banyak kader PDIP yang layak untuk maju. “Toh, bu Ida dulu juga pernah ngomong hanya akan maju sekali karena memang pencalonannya merupakan kecelakaan politik,” bebernya.
Ketua DPC PDIP Bantul Aryunadi santai menanggapi keberadaan Jas Merah yang mendukung Suharsono-Halim. Aryun, sapaan akrabnya, berkelakar organisasi sayap Partai Golkar Kosgoro maupun jas almamater mahasiswa Universitas Janabadra juga berwarna merah. “Kalau mereka me-ngaku kader PDIP kami pastikan mereka akan loyal, taat dan melaksanakan SK DPP yang ditandatangani ketua umum Hj Megawati,” tegasnya. (zam/din/jiong)