SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
TRADISI: Prosesi arak-arakan warga mengusung gunungan tanah liat dan genting mewarnai merti dusun di Kwagon Sidorejo,Godean Minggu (29/11).

Padukuhan yang Mayoritas Warganya Membuat Genting

Asal usul sebuah wilayah tak lepas dari sejarah. Demikian pula Padukuhan Kwagon di Desa Sidorejo,Godean. Konon, padukuhan penghasil genting itu muncul sejak Kerajaan Mataram dipimpin Raja Sri Sultan Hamengku Buwono V.
YOGI ISTI PUJIAJI, Godean
Minggu siang (29/11), langit tampak mendung meski suhu udara cukup membuat tubuh berkeringat. Di Dusun Kwagon, masyarakat bersiap menggelar adat upacara Saparan.
Ada yang beda dalam perhelatan merti dusun kali ini. Diawali tarian prajurit tombak, disusul tari tani puteri, dan ditutup tari makarya. Di sela tari tani puteri, masuk rombongan buto yang mengganggu para penari. Namun, buto cakil bisa dikalahkan oleh sejumlah petani yang bersenjatakan cangkul.
Sepintas, tari-tarian itu tak lebih dari suguhan seni yang dipertontonkan bagi masyarakat. Jika dicermati lebih mendalam, tari yang diberi nama Fragmen Dumadine Kwagon itu berupa cerita sejarah beridirnya padukuhan penghasil genting tersebut. “Rangkuman cerita itu dari penelusuran sejarah dan cerita orang-orang tua,” jelas Sukiman Hadi Wijaya, sesepuh sekaligus dukuh Kwagon, di sela kirab merti dusun.
Upacara merti dusun disebut sebagai napak tilas cikal bakal Pusaka Kyai Batu Liman, yakni Kyai Puspo Nagara. Diceritakan, saat Kerajaan Mataram dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono V, rakyat terlibat perang dengan bangsa Belanda.
Di suatu pisowanan Agung, Ki Tumenggung Reksa Menggala dan Ki Tumenggung Puspanegara meminta supaya kerajaan memutus hubungan dengan Belanda karena telah menindas rakyat. Karena raja saat itu belum percaya, Ki Manggung Reksa Menggala dan Puspanegara lantas berinisiatif pergi ke arah barat, tanpa restu Ngarsa Dalem.
Kedua prajurit keratin itu membawa Tombak Kyai Brojo dan Kyai Naga Wilongo. Sesampai di wilayah yang subur dan asri, keduanya lantas bersemedi. Supaya tidak tampak sebagai punggawa keraton, Ki Tumenggung Reksa Menggala mengganti pusaka menjadi Kyai Batu Liman. Kemudian hidup berdampingan dengan warga setempat yang bekerja sebagai petani alam.
Warga hanya mengandalkan hidup dari tanaman yang tumbuh di alam tanpa diolah. Lalu sosok pendatang dari kerajaan mengajarkan warga untuk bercocok tanam di sawah dan menggali tanah untuk dibuat genting. Lantaran belum terbiasa, warga tampak kaku dan kurang luwes dalam bekerja.
Apalagi, warga yang diajar sebagian besar perempuan. Kaum pria lebih banyak mematuhi perintah raja menanam tebu atau jadi kuli tanpa bayaran. “Karena dianggap wagu (kurang luwes), Ki Tumenggung Reksa Menggala lantas berucap: Mula yen ana rejane zaman, papan iki tak jenengi Desa Wagon utawa Kwagon,” tutur Sukiman menyitir pernyataan sesepuh dusun setempat.
Setelah meninggal dunia, dua sosok tersebut dimakamkan di bukit yang terkenal dengan sebutan Pasarehan Batu Liman. Nah, dari situlah warga Kwagon melestarikan sejarah dengan menggelar merti desa setiap tahun. Bukit Kwagon yang berupa tanah berkaolin menjadi sumber penghidupan warga.
Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari tanah lempung itu. Ada yang menjadi penggali tanah, pengusung lempung, hingga membuat dan menjual genting.
Karenanya, salah satu instrument penting dalam kirab berupa gunungan tanah lempung. Usai dikirab, lempung dibagi rata bagi para perajin genting. Demikian pula gunungan hasil bumi dan apem, yang diperebutkan oleh peserta kirab dan warga setempat.(din/ong)