JOGJA – Pengamatan Ketahanan Nasional dari UGM, Armaidy Armawi mengatakan, konsep bela negera tidak selalu identik dengan kegiatan ekstrim militer. Sebaliknya, bela negara dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menjaga adat, budaya, bahasa lokal, dan lain sebagainya.
“Setiap warga negara Indonesia memiliki kewajiban melakukan bela negara. Kesadaran ini harus dibangun secara kongkrit sehingga negara Indonesia tidak mudah dipengaruhi oleh negara asing,” kata Armaidy pada acara Bimbingan Teknis Ketahanan Nasional di UGM, kemarin.
Armaidy menambahkan, munculnya gerakan separatis dan berbagai konflik sosial menjadi ancaman bagi keutuhan negara RI. Karena itu, masyarakat terutama kalangan akademisi harus ikut menangkis gerakan tersebut supaya tidak mengganggu ketahanan negara Indonesia.
“Akademik memiliki tanggung jawab bela negara. Hanya, caranya mungkin tidak sama dengan yang dilakukan dengan masyarakat pada umumnya,” terang Armaidy.
Ketua Panitia, Imam Subakti mengatakan kegiatan Bimbingan Teknis Ketahanan Nasional bagi mahasiswa Pascasarjana UGM bertujuan untuk menjata keutuhan NKRI. Program ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu berbentuk kegiatan pengabdian masyarakat. “Kita semua ingin Indonesia semakin kuat, kuat dari sisi militer dan sipilnya,” jelas Subakti. (mar/ong)