RADAR JOGJA FILE
DEKAT: Bupati Hasto Wardoyo saat bersalaman dengan PA IX saat ngabekten di Pura Pakualaman. Foto kanan, Wakil Wali Kota Imam Priyono dalam acara yang sama.

Tengok Warga Transmigran hingga Susuri Pasar Tradisional

Rasa kehilangan masih membekas di sanubari warga Jogjakarta. Sosok aristokrat santun dan sederhana itu telah pergi untuk selamanya. Ada banyak sikap keteladanan yang ditularkan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX. Itu pula yang dirasakan oleh Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono, dan Wakil Ketua DPRDDIJArif Noor Hartanto.
DWI AGUS-HENDRI UTOMO, Jogja
BAGI Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo sosok Paku Alam (PA) IX banyak memberikan contoh sikap yang baik untuk kepala daerah di DIJ. Kesederhanaan dan kesabaran yang dimiliki PA IX patut diacungi jempol. “Almarhum juga memiliki perhatian yang besar pada masyarakat kecil,” ucap Hasto.
Hal itu bisa terlihat saat PA IX mengunjungi warga transmigrasi asal DIJ di luar Pulau Jawa. Hasto mengaku, sudah beberapa kali mendampingi ke Kalimantan, Sumatera, Sorong hingga Raja Ampat untuk menengok warga transmigran.
“Perhatiannya sangat luar biasa. Beliau adalah pribadi yang gigih sekali. Meski sudah sepuh, tapi semangatnya luar biasa. Itu yang saya dapat dari beliau,” ujarnya.
Hasto menambahkan, atas nama pribadi dan masyarakat Kabupaten Kulonprogo mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. “Semoga almarhum khusnul khatimah, kami sangat kehilangan karena beliau sosok teladan yang sangat sederhana,” tandasnya.
Menurut Hasto, hingga prosesi pemakaman di Astana Girigondo selesai, para peziarah masih terus berdatangan. Termasuk karangan bunga yang jumlahnya mencapai ratusan terus berdatangan menghiasi kompleks pemakaman di Kaligintung, Temon.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono mengaku kagum dengan sosok PA IX. Selain sederhana, kejujuran almarhum sangatlah menginspirasi. Dalam melakoni profesi sebagai wakil gubernur, Imam mengenal PA IX sebagai sosok yang greteh. Artinya kerap melakukan kunjungan langsung ke masyarakat. Seperti ke pasar hingga menyusuri jalanan Jogjakarta untuk menyaring aspirasi masyarakat.
“Jika menemukan kekurangan langsung melaporkan ke kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait,” ucapnya.
Kesan lain yang teringat adalah kesederhanaan PA IX. Ini tercermin dari kendaraan dinas yang dikenakan. Meski mendapatkan jatah mobil dinas, sepengetahuan Imam, PA IX memilih menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan kendaraan ini sangatlah sederhana untuk seorang Raja Pakualaman.
“Tidak pernah meminta perlakukan khusus, bahkan sering menyopir sendiri. Ketika saya tanya kepada Sri Paduka, jawabannya agar lebih dekat dan tidak menciptakan jarak dengan warga,” kata Imam.
Kesederhanaan PA IX juga terekam oleh Wakil Ketua DPRDDIJArif Noor Hartanto. Menurut pria yang akrab disapa Inung ini, sosok PA IX selalu menginspirasi jajaran pemerintah dan warga. Tidak pernah menjaga jarak, dan tak ragu untuk memulai sebuah dialog.
Dikatakan, meski terlahir sebagai seorang ningrat, PA IX dikenal sebagai sosok yang sederhana. Menurutnya, PA IX sangat bersahaja, jauh dari hiruk pikuk pencitraan diri.
“Saat dulu saya menjadi ketua DPRD Kota Jogja, sering ketemu dan ngobrol di gedung dewan saat rapat paripurna,” kata Inung.
Sebagai wakil gubernur, PA IX tidak menanggalkan kesan sebagai Raja Pakualaman. Bahkan mampu menjadi pemimpin kultural dalam kehidupan di Jogjakarta. Salah satu hal yang paling membekas di benak Inung adalah PA IX kerap melakukan blusukan. Terutama untuk melihat sejauh mana perkembangan pertanian di Jogjakarta. Pemikirannya adalah menjadikan ketahanan pangan sebagai alas bagi ketahanan yang berikutnya.
“Beliau memandang pentingnya kultur agraris di Jogjakarta. Pesan beliau yang selalu saya ingat, sek penting aku ngerti sing masyarakat rasake,” kenangnya. (Dilengkapi Rizal SN/ila/laz/ong)