SUASANA duka turut mewarnai venue Ngayogjazz 2015 di Desa Pandowoharjo, Sleman atas mening-galnya KGPAA Paku Alam IX, Sabtu (21/11).
Bentuk duka cita ditunjukkan dengan mengheningkan cipta ketika ajang musik jazz tahunan ini dibuka. Sontak penonton yang datang menundukkan kepala dan berdoa untuk kepergian wagubDIJ itu.
Budayawan dan seniman Jogja-karta Djaduk Ferianto mengaku sangat kehilangan atas keper-gian PA IX. Menurutnya, almar-hum adalah sosok yang sangat peduli dengan Jogjakarta. Baik itu dalam ranah politik, sosial, budaya, dan dekat dengan warga Jogjakarta.”Semua pasti merasa kehilangan atas kepergian beliau. Sosok PA IX adalah salah satu tokoh yang dianggap sebagai pemangku adat dalam konteks kebudayaan.
Sejarah juga menceritakan bahwa beliau dan Pura Pakualaman punya sejarah dan arti bagi Jogja-karta,” kata Djaduk.Satu hal yang sangat diingat Djaduk dari sosok PA IX adalah kedekatannya dengan masyara-kat dan petani. Bahkan PA IX selalu mengajak untuk bertani hingga wilayah Kulonprogo. Hal ini, lanjut Djaduk, yang wajib diwariskan oleh warga Jogja-karta pada umumnya
.Pengalaman personal yang di-rasakan Djaduk adalah kepedu-lian atas seni budaya Jogjakarta. Ini ditunjukkan dengan upaya menjaga kesenian tradisi khas Pakualaman. Selain itu juga dukungan dalam melestarikan kesenian di luar tembok Kadipaten Pakualaman. “Saya melihat Sri Paduka punya konsern pada kebudayaan, semua diolah dan digali lagi. Tidak ha-nya kerabat Pakualaman, tapi peran Sri Paduka penting atas apa yang didapat leluhurnya,” ungkapnya.
Rasa kehilangan juga dirasakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Jogjakarta, Umar Priyono. Me-nurutnya, sosok PA IX adalah panutan yang mampu ngemong. Di balik usianya yang tak lagi muda, PA IX tak ragu untuk me-nyapa terlebih dahulu.Menurut Umar, kedudukan PA IX selain sebagai Adipati Kadi-paten Pakualaman memiliki arti penting bagi Jogjakarta. Di balik secara administratif ber-tindak sebagai Wakil Gubernur DIJ, tetap menjalankan tugas sebagai adipati.
“Beliau dengan segala keren-dahan hati memiliki kontribusi bagi pembangunan Jogjakarta. Beliau juga tak ragu memberi wejangan dan bekal kepada kepala SKPD yang jauh lebih muda. Dulu hampir setiap minggu sowan dan di sinilah terlihat bagaimana sosoknya,” kenang Umar. (dwi/jko/ong)