JOGJA – Perdebatan mengenai ideologi tak ada habisnya. Termasuk ideologi partai politik. Sebab, masing-masing argumen mempunyai variasi perspektif tersendiri, sehingga sulit menyamakan. Perbedaan pandangan tersebut kini menjalar pada praktik sosial politik di Indonesia.
“Ada kalangan yang pesimistis. Kemudian memvonis parpol mengalami kematian ideologi. Sebagian lagi berpendapat, ideologi parpol masih ada dengan presentasi yang berbeda dan mengalami transformasi dalam praktik sosial dan politik,” kata engamat politik Arie Sujito, saat ujian terbuka Program Pascasarjana Fisipol UGM, akhir pekan lalu.
Arie Sujito mempertahankan disertasinya berjudul Ideologi Politik dan Basis Sosial Studi tentang Keterbatasan Ideologi dalam Perluasan Dukungan Partai Kiri PRD dan Partai Islam PK(S) di Era Pasca Orde Baru. Menurut Arie, fenomena kebangkitan ideologi dalam ranah politik pada awal-awal demokratisasi Indonesia masih terbatas di kalangan elit intelektual dan aktivis politiknya. Ini bisa diamati dari partai politik yang memilih jalan ideologinya. Partai Rakyat Demokratik (PRD) ingin membangun kembali sosialisme sebagai ideologi dan Partai Keadilan (Sejahtera) dengan Islamisme. “Ideologi yang digagas masih terbatas pada nalar dan keyakinan para elit politiknya,” ungkap Arie.
Menurutnya, pelajaran penting dari corak kedua parpol ini menarik didiskusikan. Yakni, para aktivis PRD memiliki militansi kuat. Terutama dalam memproduksi simbol, jargon, dan alat propaganda di dalam mengembangkan organisasinya dengan memegang teguh ideologi. Sementara PK(S), memiliki kekuatan pada kelola dan perluasan jaringan pada segmen kelas menengah kota dengan mesin-mesin politik di kampus berwujud organisasi kemahasiswaan dan kerja praksis ekonomi. “Di sini, PK(S) relatif berhasil signifikan dalam penguasaan organ-organ kampus,” papar dosen Jurusan Sosiologi UGM ini.
Arie menilai, struktur masyarakat sebagai habitat bagi berprosesnya nilai-nilai, keyakinan atau kultur tidak sepenuhnya mampu menjadi ladang tumbuh, dan eksisnya membangun ideologi politik. Ideologisasi mengalami fase di persimpangan jalan. Di satu sisi bagi parpol, demokrasi telah menghadirkan ruang keterbukaan sebagai kesempatan yang memungkinkan ideologi politik tumbuh dan berkembang.
Di sisi lain, parpol juga mengalami “kebingungan” pada saat membangun basis sosial yang kuat dan mengakar sebagai basis pijak keyakinannya. “Alih-alih membentuk ideologi pada masyarakat. Nyatanya, kesempatan tersebut gagal diwujudkan,” kritiknya.
Arie Sujito menjadi doktor ke 2.839 di UGM. Hadir dalam ujian ini Mensesneg Pratikno dan Menteri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar.(mar/hes/ong)