ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
SEDERHANA: Yuniati menujukkan foto wisuda anak pertamanya yang lulus S3 di Universitas Hokaido, Jepang, kemarin.
Keterbatasan ekonomi tak mengambat langkah Yuniati, 49, menyekolahkan kedua anaknya hingga ke perguruan tinggi. Dari usahanya sebagai buruh cuci, anak pertamanya berhasil menselesaikan program strata tiga (S3) di Universitas Hokaido, Jepang
ZAKKI MUBAROK, Imogiri
YUNIATI kini dapat tersenyum lega. Tak tampak beban berat di wajahnya. Begitu pula dengan suaminya, Pepdi Nuryanto, 56. Suami-istri ini kini dapat menikmati hari tua dengan penuh kebanggaan. Tetapi, siapa sangka beban suami-istri ini beberapa tahun lalu begitu berat. Jalan kehidupan mereka juga berliku. Sejak awal menikah pada 1985 lalu, kehidupan sepasang suami-istri ini selalu dirundung dengan keter-batasan ekonomi.”Puncaknya saat bapak berhenti be-kerja, sementara anak (pertama) masih kecil,” kenang Yuni saat ditemui di rumahnya yang terletak di RT VII RW XII Ketandan Kulon, Kelurahan Imogiri, Kecamatan Imogiri, Bantul, (10/9)
Alhasil, Yuni harus mencari pekerjaan untuk menopang pe-rekonomian keluarga. Sadar tak punya keahlian lebih, ia memi-lih sebagai buruh cuci di wilayah Bintaran, Kota Jogja. Rutinitas ini berjalan hingga anak ke duanya lahir. “Hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari,” tuturnya.Yuni kembali rutin bekerja setelah anak keduanya beranjak besar. Sama seperti sebelumnya, Yuni memilih bekerja sebagai buruh cuci. Karena memang tak ada pilihan pekerjaan lain.
Seiring waktu berjalan, kedua anaknya, yaitu Satya Chandra Wibawa Sakti dan Oktaviana Ratna Cahyani mulai masuk ke bangku sekolah. Beban Yuni menjadi bertambah berat. Untuk menyiasati besarnya kebutuhan ini, Yuni pun menambah kesi-bukannya. Selain sebagai buruh cuci, Yuni juga bekerja di usaha percetakan. Maklum, pendapa-tan Yuni sebagai buruh cuci hanya Rp 10.000 per hari. “Dari nyuci pakaian satu keluarga, per bulan Rp 300 ribu,” sebutnya.
Setali tiga uang, pendapatan dari perusahaan percetakan juga hanya Rp 300 ribu per bu-lan. Total, Yuni mendapatkan Rp 600.000 per bulan. Kendati begitu, dengan uang yang nilai-nya tak terlalu besar tersebut, Yuni mampu mencukupi ke-butuhannya sehari-hari.Juga, mampu mensekolahkan kedua anaknya hingga jenjang sekolah menengah atas (SMA).Pada 2004, anak pertamanya, Satya Chandra Wibawa lulus SMA. Yuni menceritakan, kala itu dirinya tak memiliki uang untuk mendaftarkan anak per-tamanya ke perguruan tinggi. Saat itu biaya pendaftaran Rp 4 juta. Namun demikian, keter-batasan ini ternyata tak mem-belenggu keinginan Yuni. Saking besarnya tekad, Yuni akhirnya memberanikan menghadap bupati Bantul kala itu, Idham Samawi untuk meminta ban-tuan. “Alhamdulillah… Dapat bantuan separo dari dana sosial,” jelasnya.
Sisanya, Yuni mengambil hu-tangan. Dengan penghasilan pas-pasan dia terpaksa gali lubang tutup lubang untuk menutup biaya pendaftaran Sakti di UNY. Untungnya, sang anak berpresta-si. Sehingga mulai semester kedua hingga lulus strata satu, Yuni tak lagi mengeluarkan bi-aya. Karena Sakti, panggilan anak pertamanya itu, mendapatkan beasiswa. Yuni hanya membe-rikan uang saku Rp 5.000 per hari. “Yang kedua kuliah di Akper Bethesda,” tuturnya.
Sebagaimana ketika mendaf-tarkan Sakti, Yuni juga gambling dengan hutang ‘ke sana kemari’ untuk memasukkan anak ke-duanya ke bangku perkuliahan. Yuni mengakui langkahnya itu terbilang nekat. Namun Yuni berprinsip tak ingin kedua anaknya mengalami nasib se-pertinya yang hanya lulusan SMA. “Jane nek dipikir yo stress (se-benarnya kalau dipikir ya stress). Akhire yo dilakoni wae (Akhirnya ya dijalani saja),” ucapnya.
Yuni menceritakan, dia mene-rapkan kedisiplinan semasa kedua anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar. Usai sekolah, mis-alnya, Yuni mengharuskan Sakti pulang dan tidur siang. Tujuannya, agar setiap malam Sakti dapat belajar dan mempersiapkan pe-lajaran. “Materi pelajaran yang sulit saya minta dilingkari agar keesokannya dapat ditanyakan kepada gurunya,” kata Yuni men-ceritakan.
Hasilnya, membanggakan. Mulai SD hingga SMA anak per-tamanya menjadi langganan juara. Meskipun sempat bebe-rapa kali pindah sekolah. Begitu pula dengan anak keduanya. Bahkan, anak pertamanya itu mendapatkan beasiswa hingga S3 di Universitas Hokaido Jepang. “S1 di UNY, S2 di UGM pada 2008 dan pada 2012 S3 di Jepang. Jurusannya sama, Kimia,” tuturnya.
Kendati kedua anaknya se-karang sudah mandiri, Yuni tak berharap mendapatkan imbalan balik atas perjuangannya. Bah-kan, dia tak ingin kedua anaknya tersebut mengetahui berbagai kesusahan yang dialaminya kala mensekolahkan mereka. Termasuk persoalan dirinya saat ini masih memiliki tanggungan hutang puluhan juta rupiah. Tanggungan hutang ini salah satu buntut dari kesalahannya meminta pinjaman uang ke-pada rentenir. “Sampai sekarang mereka hanya tahu sebagian kecil ceritanya,” ungkapnya.Bagi Yuni, ada kebanggaan ter-sendiri melihat kedua anaknya berhasil menselesaikan pendidi-kan. Meskipun Yuniati dan sua-minya sempat makan seadanya, hanya dengan nasi dan sayuran yang diambil dari tanaman di sekitar rumah selama kedua anaknya masih kuliah. “Prinsip saya anak-anak mau membantu saya Alhamdulilah. Kalau tidak itu memang sudah tugas orang tua,” tutupnya. (din/jko/ong)