DWI AGUS/Radar Jogja

Tiruan Suara Anjing, Paling Sulit Diduplikasi

Masih ingat dengan sosok maestro pelawak Basiyo? Basiyo memiliki andil besar dalam perkembangan dunia lawak di Jogjakarta. Celotehan yang sederhana terangkum dalam berbagai kaset. Untuk mengingat, mengenang, dan mengenal Basiyo, Seksi Film Dinas Kebudayaan DIJ memproduksi sebuah film sejarahnya. Bersama Sanggit Citra Production, diangkat cerita tentang biografi singkat Basiyo.
DWI AGUS, Jogja
GEDUNG Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu malam (2/9) penuh oleh pengunjung. Tidak hanya gedung sisi dalam, lobi bangunan bersejarah ini juga membludak. Meski hanya duduk lesehan beralaskan tikar, para pengunjung terlihat antusias.
Malam itu, Dinas Kebudayaan melalui Seksi Film memutar film bergenre drama dokumenter bertajuk Basiyo Mbarang Kahanan, yang merupakan produksi bersama Sanggit Citra Production. Film ini menyajikan sosok almarhum Basiyo, baik dalam dunia panggung maupun keseharian.
“Film sejarah tidak harus berbicara tentang kebangsaan, dapat pula tokoh lokal. Basiyo dipilih karena faktor kemaestroannya dalam dunia dagelan Mataram. Membawa ciri tersendiri dan telah mampu menginspirasi kelompok lawak generasi berikutnya,” kata Kepala Seksi Film Disbud DIJ, Sri Eka Kusumaning Ayu.
Peran Basiyo dalam dunia dagelan memang besar. Gaya bercanda dan celotehannya mampu menginspirasi beberapa kelompok, seperti Srimulat, S. Bagyo dan kawan-kawan. Bahkan ini juga terlihat dari gaya generasi standup comedy yang sedang trend saat ini.
Dipilihnya sosok Basiyo, karena minimnya pengetahuan akan tokoh bersejarah ini. Sang sutradara Triyanto Hapsoro mengaku terpanggil untuk menggarap film ini. Di sisi lain, pria yang akrab disapa Genthong ini juga kagum akan sosok Basiyo.
Menurutnya, gaya dagelan Basiyo sejatinya sederhana. Namun dari kesederhanaan ini justru terlihat kejujuran. Materi yang digunakan pun memiliki kedekatan emosional terhadap pendengarnya. “Cita-cita membuat film sudah ada sejak 2008 silam. Gayung bersambut saat mengajukan ke Dinas Kebudayaan tahun ini. Tentang film mengangkat sisi lain almarhum Basiyo yang mungkin belum diketahui banyak orang,” ungkapnya.
Film ini direka layaknya kehidupan keseharian Basiyo. Namun hadir dengan potongan-potongan adegan. Penggarapan dimulai sejak Maret 2015 yang melibatkan tiga narasumber. Ketiga narasumber ini antara lain Anjarwani, Harto Basiyo, dan Widayat.
Ketiganya dipilih karena memiliki kedekatan secara emosional. Selain itu ketiganya juga mengetahui sejarah perjalanan Basiyo dalam dunia dagelan. Untuk melengkapi data, tim kreatif juga melakukan riset pustaka.
Penulisan naskah diserahkan kepada Joko Lisandono dan dilengkapi oleh Triyanto Hapsoro. Setelah itu, dilakukan proses pemilihan pemain dan workshop pemain selama 2 minggu. Sedangkan penata peran melibatkan seniman Agoes Kencrot.
“Proses casting tidak mudah, karena karakter fisik dan gestur Basiyo dan beberapa tokoh lainnya cukup unik. Selain itu, unsur vokal menjadi penting, karena masyarakat lebih mengenal Basiyo dan kawan-kawan melalui media audio,” ungkap Genthong.
Peran Basiyo dipercayakan kepada Sugeng Surono, sedangkan sang istri Pudjiyem diperankan Titik Renggani. Aktor-aktor ini memiliki latar belakang tradisi, sehingga memudahkan berakting. Ini tercermin saat para aktor memerankan adegan Ketoprak Tobong.
“Kebanyakan aktor di film ini mempunyai latar belakang seni tradisi, sehingga mereka telah paham betul dengan karakter film ini. Nah untuk rekaman studio, kami seting sesuai realita. Salah satunya tawa riuh para penggending,” imbuh Genthong.
Memerankan tokoh Basiyo tidaklah mudah bagi Sugeng. Pasalnya karakter Basiyo sangatlah kuat, terutama di telinga penggemarnya. Bagi para penggemar, sosok Basiyo tercermin dalam setiap kaset dagelannya. Hal ini menjadi tantangan bagi Sugeng untuk menghidupkan suara menjadi tokoh secara visual.
Menjadi Basiyo rupanya menjadi kenangan tak terlupakan bagi dirinya. Adegan yang sukar untuk dilakoni, adalah saat menjalani rekaman adegan kethoprak. Pasalnya Sugeng harus menirukan suara Basiyo yang mengeluarkan suara Anjing.
“Saat masa kejayaan Pak Basiyo, saya belum pernah tahu dan tidak mengalami. Sehingga belajar dari orang terdekat dan keluarganya. Saya merasa menjadi ciri lagak Pak Basiyo belum total. Misal saat Pak Basiyo mengisi suara anjing menggonggong, tobat saya tidak bisa,” kenangnya.
Anak Basiya, Harto Basiyo senang almarhum bapaknya diabadikan menjadi film. Dirinya menyambut positif dengan menjadi narasumber film ini. Baginya sosok Basiyo adalah sosok yang berbeda dalam kehidupan nyata dan dagelan.
Saat di lingkungan keluarga, Basiyo cenderung diam. Namun saat berada di studio rekaman maupun panggung, lahir sosok Basiyo yang berbeda. Penuh dengan canda tawa dan mampu membuat orang yang mendengar dan melihatnya tertawa terpingkal-pingkal.
“Ciri khas bapak itu nguda rasa dan berbagi tentang pengalaman hidup. Kadang mengkritik, tapi juga menertawakan hidupnya sendiri. Bapak orangnya serius, jarang bercanda kalau di rumah. Tapi anehnya dapat membuat orang lain tertawa,” kenang Harto.
Salah satu lakon yang fenomenal pada waktu itu adalah Basiyo Becak. Lakon ini menurut Harto, terinspirasi dari tukang becak langganan bapaknya yang bernama Pak Rebo. Sosok Pak Rebo ini menurutnya sangat menyebalkan.
Hal ini lalu diwujudkan oleh Basiyo menjadi lakon yang menghibur. Lakon ini pun menjadi favorit, bahkan kasetnya diburu oleh pendengarnya. Hal ini lah yang selalu dihadirkan oleh Basiyo. Mengangkat kisah pengalaman hidup menjadi sebuah pementasannya.
“Mengangkat sisi terdekat dari bapak yang dirasakannya sendiri. Pesan bapak itu selalu kita kenang, yaitu jangan aneh-aneh dan jangan mengeluh. Manusia punya mata, hidung, telinga dan ini pemberian gratis dari Sang Pencipta, sehingga buat apa mengeluh,” kata Harto.
Pesan itu juga yang terpatri di benak Widayat. Sesepuh kethoprak Jogjakarta ini memang dekat dengan Basiyo. Bahkan dirinya pernah satu panggung saat menggarap rekaman di RRI. Basiyo menurutnya, sosok yang tidak perhitungan jika berbicara tentang upah pentas.
Baik itu untuk pentas di Jogjakarta maupun keluar kota, Basiyo tidak memasang tarif. Menurut Widayat, ini membuat semua orang sangat sungkan kepada Basiyo. Tidak pernah ngarani, namun tetap total tampil dengan bayaran berapa pun. “Pengabdian beliau untuk seni sangatlah total dan patut dicontoh. Para seniman dan pelaku hiburan pada waktu itu pun sangat menghargai dan menghormati sosok Basiyo,” kenangnya.
Dalam film ini, terbongkar bahwa hubungan Basiyo dengan rekan sejawatnya Darsono tidak akur. Hal ini diakibatkan Basiyo tidak merestui ketika anaknya berpacaran dengan anak Darsono. Namun sebagai pelaku hiburan, keduanya tetap terlihat profesional dalam dunia seni.
Ini terangkum dalam lakon Maling Kontrang-Kantring. Keduanya dipasangkan sebagai dua orang perampok. Ketidakakuran di antara keduanya justru membuat naskah cerita menjadi lebih hidup. Terlihat saat Darsono beberapa kali menimpali percakapan Basiyo.
“Pak Basiyo itu tidak akur dengan Pak Darsono karena kedua anak mereka pacaran. Menurut Pak Basiyo tidak baik jika sesama seniman ketoprak berhubungan, karena tidak akan makmur. Tapi di sisi lain, keduanya tetap bermain meski saling memunggungi saat rekaman suara,” kata Andjarwani.
Pemilihan lokasi untuk seting film diusahakan sedekat mungkin dengan realitanya. Beberapa lokasi syuting antara lain jalan sebelah barat kampus Universitas Widya Mataram, Studio Audio Visual Puskat dan sekitarnya.
Pengambilan gambar dilakukan selama 5 hari dengan mengerahkan kru kurang lebih 35 orang dan 100 aktor. Film ini berdurasi 38 menit, bisa dinikmati oleh siapa pun. Dapat diambil di Seksi Film Disbud DIJ dengan melengkapi data terlebih dahulu. “Untuk tahap pertama, film ini digandakan sebanyak 200 copy film. Tanggal 17 September mendatang juga akan ditayangkan di RBTV,” pungkas Eka.(jko/ong)