HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
TENANG: Suasana Kompleks Makam Girigondo. Kanan, Juru Kunci Makam Girigondo Drs H Mas Wedana Wasiluddin.
Dulu Bernama Gunung Keling, Jadi Makam PA V-PA VIII
Hendri Utomo/Radar Jogja
TENANG: Juru Kunci Makam Girigondo Drs H Mas Wedana Wasiluddin. Kanan, suasana Kompleks Makam Girigondo tempat dimakamkannya PA V hingga PA VII.

Astana Girigondo atau Makam Girigondo di Desa Kaligintung, Temon, Kulonprogo dulu bernama Gunung Keling. Berada di atas pegunungan dengan kemiringan yang cukup terjal, di sanilah dimakamkan Paku Alam (PA) V – Paku Alam VIII serta keluarga dan kerabat. Seperti apa sejarahnya?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
ASTANA GIRIGONDO berada di Dusun Girigondo, Kaligintung, Temon, Kulonprogo. Di atas puncaknya atau kompleks pemakaman Paku Alam V, VI, VII dan Paku Alam VII, peziarah akan menemukan ketenangan dan kedamaian. Belum lagi ketika pandangan ke jauh selatan, di sana akan tersapu panorama hijau indah bak permadani bergaris pantai biru laut selatan.
Pohon-pohan besar, langka dan tua, tangga berundak yang banyak, seolah menyatu dengan kompleks pemakaman yang tertata rapi. Ini membuat siapa saja enggan beranjak ketika sudah menjejakkan kaki di tempat itu. Berada di atas ketinggian, membuat persemayaman para leluhur itu kaya dengan angin, sesekali berhembus keras dan dingin menambah sakral suasana.
“Berdasarkan sejarah turun temurun, tempat ini dulu bernama Gunung Keling. Sebelum tahun 1990, dipun kersaaken (diminta, Red) gusti engkang Jumeneng Kaping V (PA V) sebagai makam,” tutur Juru Kunci Makam Girigondo Drs H Mas Wedana Wasiluddin, 64, sekaligus Takmir Masjid Pakualaman di Kompleks Pemakaman Girigondo (26/7).
Dijelaskan, pertama dijadikan makam masih berbentuk pegunungan dengan kemiringan yang cukup terjal. Orang pertama yang mererima dawuh (perintah) yakni Distrik Wonodirjo, yang makamnya berada di sisi timur Bangsal Umum.
“Yang dimakamkan di Makam Girigondo ini di antaranya Paku Alam V, VI, VII dan terakhir Paku Alam VIII, dan undak-undakan jalan menuju ke makam ini baru dibangun sekitar tahun 1930,” jelasnya.
Mas Wedana Wasiluddin menambahkan, awalnya kompleks pemakaman Girigondo hanya berupa tanah miring. Jika ada yang mau naik, cukup dibuat jalan tanah menuju kompleks makam. Hingga kemudian dilakukan penyempurnaan sampai seperti saat ini.
“Karena kemiringannya yang cukup tajam, saat ini juga sudah dibuat semacam tanggul atau talud untuk penahan erosi, dan sekitar tahun 1990 mulai masuk listrik,” tambahnya.
Kurun waktu 1960-1990 orang yang berziarah ke kompleks makam Girgondo sangat banyak. Sehari mencapai ribuan orang. Namun seiring perkembangan zaman, Makam Girigondo sebagai tempat wisata religi harus bersaing dengan tempat wisata lain di Kulonprogo, salah satunya Pantai Glagah Indah.
“Wisata religius kemudian kalah dengan wisata pantai dan wisata hiburan. Yang rajin datang ke sini selain kerabat Pakualaman juga para pejabat di DIJ usai dilantik. Biasanya mereka akan ziarah ke makam Girigondo,” kata Mas Wedana Wasiluddin yang diminta menjadi juru kunci sejak tahun 1982 atau juru kunci generasi ke empat Makam Girigondo.
Kendati demikian, makam Girigondo sampai saat ini masih menjadi tempat wisata religi yang sudah dikenal luas, kendati pengunjungnya tidak seramai dulu. Namun tempat yang luasnya mencapai 10 hektare ini masih tetap nyaman, kondusif untuk mengenang para leluhur, bahkan beberapa kali digunakan untuk studi dan penelitian sejarah.
Tidak ada aturan khusus yang diterapkan bagi pengunjung ketika berkunjung ke kompleks Makam Girigondo. Cukup dengan bersikap dan berpakaian sopan, siapa saja boleh datang. Kendati memang tidak semua pengunjung bisa masuk ke makam utama.
“Tapi kalau yang memang berkepentingan atau berdoa kita siap mengantar masuk ke dalam. Biasanya mereka adalah keluarga dan kerabat Pakualaman,” ujarnya.
Tata cara yang lazim dilakukan para kerabat Pakualaman saat datang berizarah ke makam Girigondo biasanya diawali dengan singgah ke Masjid Pakualaman terlebih dahulu. Di situ mereka akan berwudhu dan salat jika sudah masuk saat salat, sebelum dilanjutkan ke atas (makam).
Mas Wedana Wasiluddin mengisahkan, Masjid Pakualaman yang berada di dekat areal parkir atau pintu gerbang pertama jalan berundak menuju kompleks Makam Girigondo awalnya adalah rumah untuk istirahat sebelum naik ke atas. “Kalau dulu kan para kerabat datang ke sini naik kereta, karena jauh maka biasanya sebelum naik transit atau istirahat dahulu. Sekitar tahun 1920-an oleh kerabat Pakualaman kemudian dibangunlah masjid ini,” katanya.
Serambi masjid masih asli yang dulu berasal dari daerah Gentan sisi selatan Desa Bendungan, Temon. Sudah beberapa kali mengalami renovasi, hingga kemudian jadi seperti ini. Hingga kini Masjid Pakualaman sudah menjadi satu kesatuan dengan kompleks makam Girigondo.
Usai bersuci dan beribadah di masjid, peziarah baru ke atas, dan sebelum masuk ke makam utama biasanya sejenak akan rehat beberapa waktu di bangsal khusus, sambil melakukan persiapan. Bunga-bunga harum disiapkan, ditata sedemikian rupa, baru naik dan masuk ke makam utama.
Di depan pusara leluhur, peziarah biasanya akan dibimbing juru kunci untuk membaca kalimat toyibah, tahlil, dzikir kemudian berdoa sebelum nyekar (tabur bunga). Setelah prosesi itu selesai, mereka yang masih memiliki waktu luang, biasanya akan kembali ke bangsal kendati sekadar duduk-duduk. (laz/ong)