SLEMAN- Regrouping sekolah dalam pelaksanaan ujian nasional (Unas) juga terjadi di tingkat SMP. Enam dari total 133 sekolah se-Kabupaten Sleman harus menginduk di sekolah lain yang lokasinya berdekatan. Sekolah induk ini ditunjuk oleh kelompok kerja (pokja) di masing-masing wilayah kecamatan. Unas digelar pada 4-6 Mei, diikuti 14.080 siswa. “Penyelenggara Unas 127 sekolah. Sisanya belum memenuhi syarat untuk Unas mandiri,” jelas Kabid Kurikulum dan Kesiswaan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdik-pora) Ery Wirdayana kemarin (27/4).
Sekolah yang di-maksud adalah, SMP Terbuka, Tempel; SMP Budi Utama, Mlati; MTs Anwat Futuhiyah, Ngem-plak; SMP IT Roudhotus Salam, Berbah; SMP BOPKRI, Godean, dan SMP Sunan Alverus. Enam sekolah tersebut dinilai belum layak menyelenggarakan Unas karena beberapa faktor. Di antaranya, kekurangan siswa, sarana dan praserana, serta belum terakreditasi. Ini biasanya terjadi pada sekolah baru (swasta). Seperti halnya di tingkat SMA, sekolah yang belum melulus-kan siswanya tidak bisa menggelar Unas mandiri. Kelulusan siswa menjadi salah satu syarat akreditasi.Sedikit beda dengan Unas SMA, peserta Unas SMP yang ber-halangan hadir saat ujian wajib mengikuti Unas susulan. “Nanti langsung didata dan dilaporkan ke posko provinsi,” katanya.Unas susulan dijadwalkan sepekan setelah Unas regular. Yakni pada 11-14 Mei. Penye-lenggara Unas susulan hanya sekolah-sekolah yang ditunjuk sebagai pokja.Kepala Disdikpora Arif Haryono berharap Unas SMP tahun ini bisa berjalan lancar. Diharapkan kasus kebocoran soal, seperti Unas SMA tidak akan terjadi lagi. “Semoga itu tidak terulang untuk siswa-siswa SMP,” katanya. (yog/din/ong)