RIZAL SETYO NUGROHO/RADAR JOGJA
SEDERHANA: Gregorius Sri Nurhartanto, saat berada di ruang kerjanya sebagai Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Selama 26 Tahun Mengabdi, Saatnya Berbuat untuk Institusi

 
Ditetapkan sebagai Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) sejak 1 Februari 2015, Gregorius Sri Nurhartanto baru menduduki jabatan itu per 1 April 2015 kemarin. Itu setelah masa bhakti rektor sebelumnya (Rogatianus Maryatmo) habis per 31 Maret 2015. Radar Jogja berkesempatan berbincang-bincang lebih dekat dengan penyuka serial detektif itu, Kamis (9/4) lalu
“MAAF, sudah lama menunggu. Tadi jadwal acara seminarnya mun-dur, sehingga mohon maaf kalau saya terlambat,” kata si empunya rumah mengawali sapaan. Semi-nar yang dimaksud adalah Se-minar Nasional Temu Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik 2015 di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.Sebagai tuan rumah, dia didau-lat untuk memberikan sambutan. Itu adalah hari keduanya masuk se-cara resmi menjadi Rektor UAJY yang baru. Ramah dan murah senyum. Itulah kesan pertama saat pertama kali bertemu dengan pria yang biasa dipanggil Pak Nur oleh sesama dosen dan mahasiswanya itu.
Pagi itu, ia yang mengenakan se-telan batik ungu muda berpadu dengan pantalon hitam, memper-silakan tamunya masuk ke ruangan rektor yang nyaman, namun seder-hana. Dengan suasana yang santai, ia menceritakan masa kecilnya sam-pai perjalanannya meniti karir hingga menjadi orang nomor satu di Atma Jaya.Dibesarkan dalam keluarga militer di kota kecil Salatiga, kultur dan kese-harian tentara yang disiplin sangat melekat pada diri Nur kecil. Sejak kanak-kanak orang tuanya selalu mena-namkan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan keberanian.”Ayah saya selalu menanamkan, jangan pernah takut pada siapa pun, sejauh kamu membela kebe-naran. Hanya Tuhan yang patut kamu takuti,” kata pria yang sem-pat bercita-cita menjadi tentara ini.
Tak heran apabila ada teman atau saudaranya yang dianiaya, ia akan membelanya sampai tuntas. Tak jarang pula, dia sampai berkelahi. Ia mengaku tidak terima jika kawan atau saudara nya dikalahkan. “Zaman dulu berkelahinya masih wajar, satu lawan satu. Tidak keroyo-kan seperti sekarang,” ujarnya lalau tertawa. Kemudian, karena tuntutan kerja orang tuanya di kemiliteran, ia se-keluarga pindah ke Semarang. Saat itu, ia masih menyisakan satu tahun masa belajarnya di sekolah dasar SD Kanisius Salatiga. Akhirnya, sebagian besar pendidikannya dihabiskan di Kota Atlas Semarang. Sempat bersekolah di SD Save-rius Semarang, sebelum akhirnya ia melanjutkan ke SMPN 4 Semarang, SMAN 3 Semarang dan Jurusan Hukum Internasional Universitas Diponegoro. “Ada perubahan kultur dari kota kecil ke kota besar. Dinamika itu mem-buat saya beradaptasi,” ucap mantan personalia manajer pabrik garmen di Jakarta pada tahun 1988 itu.
Lulus dari Fakultas Hukum Undip pada 1988, ia merantau ke ibu kota. Berbekal kemampuan bahasa asing, banyak perusahaan menawarinya pekerjaan. Pilihannya jatuh pada pe-rusahaan garmen milik pengusaha Korea Selatan. Tak lebih dari setahun di perusahaan itu, kemudian ia me-milih berhenti. Sampai pada akhirnya ia diterima menjadi dosen muda di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada tahun 1989.Di kampus yang berlokasi di Jalan Babarsari itu, karir Nurdiawali saat dipercaya menjadi Sekretaris Juru-san HTN pada 1991. Tiga tahun kemudian naik menjadi Pem-bantu Dekan II Fakultas Hukum dan anggota senat akademik fa-kultas dan universitas pada tahun 2007.
Seterusnya dalam rentang waktu setahun berturut-turut sejak 2013, ia didapuk menjadi Ketua Senat Akade-mik FH-UAJY, Dekan Fakultas Hukum Univer-sitas Atma Jaya Yogya-karta, dan kemu-dian Rektor UAJY saat ini.Ke depan ia berharap dapat memenuhi keinginan ya yasan untuk segera mengakselerasi keberadaan Atma Jaya agar terus diperhitungan baik di level nasional, maupun interna-sional. Selain itu yang tak kalah penting, kata suami dari Maria Imaculata Su-marminingsih itu, yakni terus mem-bumikan cita-cita pendiri untuk men-jadikan komunitas Atma Jaya bangga dengan ke-atmajaya-annya.”Saya bukan alumni Atma Jaya, tapi kalau ditanya, saya akan merasa bangga menjadi bagian komunitas ini. Karena setiap disebutkan curriculum vittae saya, saya selalu katakan dosen Atma Jaya. Dua puluh enam tahun saya mengabdi, saya merasakan ini lah saatnya untuk berbuat lebih bagi institusi ini,” ujarnya. (cr3/jko/ong)