PETUAH bijak mengatakan, selama kita belum kuat memikul susah, selama itu kita belum kuat memikul senang. Maka nikmatilah menjadi orang miskin atau hayatilah kemiskinan.
Menghayati kemiskinan itu nikmat bagi yang tahu. Namun, bagi mereka yang silau dengan gemerlap dunia, menghayati kemiskinan itu sebuah pekerjaan yang absurd, dan sangat sulit untuk dipraktikkan.
Nah, karena ada istilah miskin, biasanya orang akan banyak bertanya, siapa yang pantas disebut kaya. Dari pertanyaan itulah kadang banyak orang salah menafsirkannya. Kendati definisi kaya itu jelas rinciannya, dan mudah dilihat indikasinya.
Orang kaya adalah, ketika seseorang jatuh sakit dan tidak bisa bekerja selama satu bulan, keluarganya (anak dan istri) masih tetap bisa hidup secara normal dan tercukupi semua kebutuhannya. Contoh, seorang guru SD, gajinya hanya Rp 3 juta, sepeda motornya satu, anaknya sekolah naik sepeda, televisinya kecil, listriknya hanya 350 watt. Namun, ia punya kebun tak begitu luas, punya ternak tak begitu banyak, namun berhasil dikelola dengan baik.
Hingga suatu hari, sang guru SD jatuh sakit, terbaring di tempat tidur selama sebulan. Keluarganya tidak panik, masih bisa hidup secara normal dengan semua yang dimilikinya. Maka sang guru SD yang terlihat sederhana itu masuk kategori orang kaya.
Tapi sebaliknya, ada orang motornya tiga terparkir rapi di garasi, televisinya besar terpajang di ruang tamu, listriknya 900 watt. Namun, saat ia jatuh sakit tidak genap sebulan, kehidupan keluarganya morat-marit, tagihan utang datang dari segala penjuru. Maka dia tidak bisa masuk kategori orang kaya. Hanya terlihat kaya, tapi tidak kaya alias miskin.
Definisi itu sudah digunakan lama oleh teman-teman di Eropa. Dalam istilah lain, orang yang kaya bisa bebas finansial. Banyak orang bercita-cita kaya tanpa harus terlihat melimpah ruah. Orang-orang seperti itu biasanya memiliki target. Sebelum usia 50 tahun sudah harus bebas finansial. Jika memasuki usia 50 tahun belum bebas finansial, dengan definisi yang sudah disebutkan tadi, berarti hidupnya salah semua. Karena kita sudah diberi waktu mulai umur 20 tahun hingga 50 tahun untuk bekerja.
Seorang peternak unggas berhasil bebas finansial sebelum usia 50 tahun, itu sangat mungkin. kendati kandang hanya menyewa dari tanah kas desa, luasnya juga hanya dua hektare, cuma beruntung berada di pinggir sungai. Waktu berjalan, bebek 5.000 ekor berhasil dibdudiayakan, karyawan tiga orang mendapat upah seusai hakny. Ddalam sebulan bisa menjual telur bebek ribuan dan menjual bebek 500 ekor, pendapatan bersih Rp 3 juta.
Jika selama tiga tahun kok belum jadi juragan bebek itu keterlaluan. Nah, setelah berhasil, fokus 5 tahun bebas finansial, maka dia akan masuk kategori orang kaya. Akan tetapi syaratnya itu tadi, harus bisa menghayati kemiskinan, jangan aneh-aneh, jangan setahun jalan, dapat untung sedikit, langsung kredit motor ya bangkrut.
Disitulah kadang orang tidak berhasil menghayati kemiskinannya. Sudah makan susah, anak tidak bisa sekolah, nekad nikah lagi. Itu yang namanya tidak menghayati kemiskinan. Padahal dengan menghayati kemiskinan, maka kemiskinan itu bisa cepat berakhir.
Orang dulu juga punya istilah, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara bebas bunyinya memantaskan diri. Kalau hurung pecus yo ora usah kementus, kalau belum berprestasi yang jangan mengejar prestise. Kemudian semua didasari daya juang, semangat, dan kemungkinan itu selalu ada. (*)