GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR
JOGJA TUMBANG: Abdi dalem bersama petugas BPBD DIJ memangkas sejumlah pohon yang tumbang akibat diterjang angin kencang di dalam kompleks Keraton Jogja, kemarin (26/3). Peristiwa terjadi sekitar pukul 15.30 WIB dan tidak menimbulkan korban jiwa.
SLEMAN – Angin kencang (Puting Beliung) yang melanda wilayah Sle-man dan sekitarnya, berlanjut hing-ga kemarin (26/3). Kali ini melanda wilayah utara Sleman. Sedikitnya 19 rumah di wilayah Kecamatan Sleman, Mlati, dan Ngaglik, dilapor-kan rusak. Bahkan lima pohon besar di Keraton Jogja juga tumbang.Kondisi tersebut memperparah musibah yang sama sehari sebelum-nya yang menewaskan 3 orang, dan merobohkan tak kurang dari 21 unit rumah di wilayah Sayegan, Tempel, Turi dan Minggir (Kabupaten Sleman).Kepala Pelaksana Badan Penang-gulangan Bencana Daerah Sleman Julisetiono Dwi Wasito mengatakan, di wilayah Sleman, angin kencang kemarin terjadi di 23 titik di wilayah Kabupaten Sleman. “Angin kencang menyapu 23 titik lokasi,” kata Julise-tiono Dwi Wasito, kemarin (26/3). Angin yang disertai hujan tersebut juga menumbangkan puluhan pohon. Saat kejadian, sekitar pukul 14.00, akses Jalan Pendowoharjo terputus, akibat pohon besar tumbang melin-tang jalan
“Tepatnya di sebelah utara Rumah Makan Jejamuran. Pohon mengenai warung angkringan di pinggir jalan. Beruntung tak ada korban jiwa dalam musibah tersebut,” katanya.Salah seorang warga, Budiono, 33, warga yang sedang jajan di warung tenda oranye itu menu-turkan, angin kencang datang secara tiba-tiba. “Tiba-tiba angin kencang. Lalu, brak….pohon kena tenda. Kami pun terperanjat,” kata Budiono.Warga yang lain, Nunung mengaku bahwa rumahnya juga sempat dihampiri angin kencang. Akibatnya, pohon jati yang ada di sebelah rumahnya tumbang. “Atap seng kami juga sempat beterbangan,” kata warga yang tempat tinggalnya tak jauh dari RM Pring Sewu ini.
Pascamusibah, beberapa rela-wan dan petugas PLN membe-nahi kabel listrik yang terputus. Sementara warga bahu mem-bahu memotongo pohon yang tumbang. Meski hujan masih berlangsung hingga malam, Ke-pala Pelaksana BPBD Sleman Julisetiono Dwi Wasito menya-takan situasi dan kondisi sudah terkendali. “Hingga malam ini, situasi sudah kembali kondusif,” katanya.
Sementara itu, angin kencang juga menerjang wilayah Keraton Jogja, kemarin (26/3). Angin yang berhembus sekitar satu jam, mulai pukul 14.30 hingga 15.30 itu, menumbangkan sedikitnya lima pohon yang sudah berumur lebih dari seabad.Kelima pohon tersebut, antara lain empat pohon Sawo Kecik yang berada di sekitar Bangsal Kencono, satu di Museum Ke-reta, dan satu di Keben. Untuk pohon yang tumbang di Keben, bernama pohon Keben. Akibat dari bertumbangnya pepohonan di keraton ini, gen-teng di Museum Keraton berse-rakan. Tapi, tak sampai mem-buat kerusakan yang parah. “Tidak ada yang parah. Hanya merobohi Museum Kereta dan kandang burung,” kata Pengha-geng Panityo Puro Keraton GBPH Prabukusumo, kemarin (26/3).
Gusti Prabu menuturkan, ke-lima pepohonan yang tumbang tersebut ditanam sejak zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan HB VIII. “Ada yang ditanam HB VII ada yang HB VIII,” lanjut Ketua KONI DIJ ini.Ukuran kelima pohon yang tumbang tersebut, berdiameter besar, sekitar setengah meter. Tapi, memiliki ranting dan daun yang lebat, sehingga saat di-terpa angin kencang, batang pohon tak kuat menahan.Dari keempat pohon ini, satu pohon tumbang sejak dari akar-nya. Pohon yang tumbang, pohon Sawo Kecik. Sedangkan yang lain batangnya patah.Petugas dari Badan Penang-gulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ dan relawan langsung ber-datangan. Mereka memotongi batang dan ranting pohon agar bersih. “Besok (hari ini) ditarget-kan bisa segera bersih. Karena, besok sudah bisa untuk masuk wisatawan,” lanjutnya.
Soal makna bertumbangnya pepohonan ini, Gusti Prabu mengatakan, tak mau mempo-litisasi. Meski salah satu pohon Keben hanya berada di Bangsal Keben. Juga, bangsal ini khusus untuk wanita. “Hari ini memang malam Jumat Kliwon. Tapi, jangan terlalu dipolitisir atau ditang-gapi aneh. Silakan masyarakat bisa mengartikan sendiri,” kata Gusti Prabu. Sementara itu, suasana duka menyelimuti Desa Temanggung, Tambakrejo, Tempel, Sleman. Tiga jenazah yang tewas akibat amukan puting beliung Rabu (25/3), kemarin (26/3) di se ma-yam kan di rumah induk keluar-ga besar Sutadi, 60. Dari pantauan Radar Jogja, alunan doa-doa kesedihan umat Katholik terdengar sejak mulai gang masuk sejarak 25 meter dari rumah keluarga korban. Ratusan pelayat hadir untuk berbelasungkawa dan meng-gelar doa bersama.
Suasana kerukunan umat beragama tam-pak sangat kental. Tak sedikit tamu berjilbab hadir dan men-doakan korban yang beragama Katholik. Tiga jenazah, Tanti Yuliana, 54, Theresia Widiastuti, 50, dan Ma-ria Magdalena Sukilah, 30, di-semayamkan di ruang tengah. Sutadi tak tampak di ruangan itu. Dia mengurung diri di kamar sambil tiduran. Dia ditemani Fery, salah seorang putranya. Sambil tiduran di kasur dipan, sesekali Sutadi menyalami tamu yang masuk ke kamar untuk berbagi duka. “Bapak masih sangat terpukul. Sehingga belum mau banyak bicara dan menemui tamu,” ungkap seorang pria paro baya yang berjaga di depan kamar.
Kondisi terpukul juga dialami Andreas, 31, suami Sukilah. Ber-sama anaknya yang masih duduk di kelas 5 SD, Andreas mengurung di dalam kamar sejak malam kejadian nahas yang menimpa istrinya. “Mas Andreas malah belum keluar kamar sejak se-malam. Dia sangat shock,” lanjut pria berbaju hitam itu.
Keluarga korban yang meny-ambut para tamu adalah Wukir Supriyo, 55. Sosok tinggi sedikit beruban itu, adalah adik Tanti Yuliana, yang juga kakak There-sia Widiastuti. Wukir tak me-nyang ka nasib nahas menimpa saudara kandungnya dalam waktu bersamaan. Yang lebih tak disangkanya, adalah There-sia Widiastuti. Perempuan war-ga Cebongan, Mlati itu turut menjadi korban, saat kebetulan sedang main ke rumah Sutadi di Dusun Gondang, Tambakre-jo, tempat kejadian perkara yang sehari-hari digunakan untuk usaha katering. “Dia bukan ka-ryawan katering. Hanya kebe-tulan main karena janjian mau menjual motor,” ungkap Priyo.
Bahkan, beberapa jam sebelum kejadian, warga Kota Jogja itu masih berkomunikasi dengan Theresia melalui SMS. Priyo bermaksud meminjam pakaian adat Jawa milik Theresia, untuk keperluan menghadiri wisuda anaknya. “Biasanya dia (There-sia) tak pernah ke rumah itu. Hanya karena janjian ada ka-ryawan pabrik langganan kate-ring mau beli motornya. Belum ada sepuluh menit dia di situ. Wong lagi oncek-oncek tiba-tiba kejatuhan atap,” sambung Priyo menceritakan kronologis.
Nasib baik justeru dialami Mbok Sukir. Karyawan tetap usaha Sutadi itu sehari-hari memasak dan menyiapkan keperluan ka-tering. Pagi hingga sore, Mbok Sukir selalu ada di rumah Su-tadi. Hanya, pagi sebelum keja-dian, Mbok Sukir tak hadir ka-rena harus menjemur padi di rumah. “Saat dijemput suruh kerja (katering), dia nggak mau,” tuturnya. Setiap hari, sedikitnya 10-15 karyawan katering mema-sak bersama di dapur yang am-bruk.Jenazah yang disemayamkan di rumah itu sejak pukul 19.00 (25/3), dimakamkan kemarin (26/3) pukul 13.00, di Pemakaman Purbayan, desa setempat. Tiga lubang berjejer disediakan untuk ketiga korban. Usai pe-makaman, hujan dan angin deras kembali melanda wilayah utara Sleman. (yog/eri/jko/ong)