GUNUNGKIDUL – Jajaran kepolisian Poles Gunungkidul menggerebek gudang milik dua orang pedagang di wilayah Kecamatan Wonosari dan Playen. Gudang tersebut menyimpan delapan ton pupuk bersubsidi tanpa dibekali dokumen resmi. Dua orang pemilik gudang warga Kepek, Wonosariyakni Ngadiyono, 58, dan warga Playen, Puji Suwarsih, 48, langsung ditetap-kan sebagai tersangka. Kasat Reskrim Polres Gunung-kidul AKP Herry Suryanto me-ngatakan, penggerebekan dua gudang berawal dari laporan masyarakat yang curiga pupuk bersubsidi di kedua lokasi tersebut bermasalah. “Dari laporan itu, kami sesuai dengan perintah kapolres langsung melakukan penyelidikan,” kata Herry, kemarin (24/3).Hasilnya, toko pertanian milik Ngadiyono menjadi target peng-gerebekan.
Dari lokasi toko tersebut, petugas mendapati karyawan tengah menurunkan pupuk ber-subsidi dari sebuah kendaraan kendaraan Toyota Kijang AB 1141 GD. Kendaraan itu diketahui milik Puji Suwarsih. “Pemilik pupuk tidak bisa me-nunjukkan dokumen pengiriman yang sah, temuan ini kami tindak-lanjuti,” terangnya. Petugas kemudian menggeledah gudang milik Ngadiyono dan mendapati tumpukan pupuk besubsidi. Di lokasi ini terdapat 63 sak ukuran 50 kilogram pupuk urea bersubsidi, 51 pupuk phonska, 45 sak pupuk ZA. Juga 28 plastik ukuran lima kilogram pupuk urea dan setengah karung pupuk urea.Dari lokasi penggerebekan, petugas mengembangkan temuan ratusan sak pupuk bersubsidi ke gudang milik Puji Suwarsih di wilayah Playen. Di lokasi ini, petugas kembali menemukan pupuk bersubsidi jenis urea sebanyak 20 sak dan lima bungkus urea ukuran lima kilogram.”Total pupuk bersubsidi yang kita amankan ada sekitar delapan ton. Semua kita amankan ke Polres,” terangnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka Puji berperan sebagai penyuplai pupuk bersubsidi ke gudang milik Ngadiyono. Pupuk tersebut didatangkan Puji dari luar daerah.Kemudian pupuk dijual secara eceran oleh pelaku dengan harga Rp 125 ribu per sak. Namun begitu, kedua pelaku tidak ditahan karena pertimbangan kesehatan. “Semua (tersangka) tidak ditahan, namun wajib lapor,” ujarnya.Kedua pelaku dijerat dengan pasal 6 ayat 1 huruf B Undang-Undang Darurat nomor 7 tahun 1955 tentang Pengusutan, Pe-nuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi junto pasal 30 ayat 3 Permendag nomor 15/M- DAG/4/2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian dengan ancaman lima tahun penjara. (gun/ila/ong)