JOGJA – Florence Sihombing meminta kepada majelis hakim yang me-nangani perkaranya agar menolak seluruh tuntutan jaksa dan mengembalikan barang bukti berupa handphone kepada dirinya. Permintaan itu disampaikan Flo, sapaan akrab Florence Sihombing, saat membacakan nota pembelaan di Pengadilan Negeri (PN) Jogja, kemarin (23/3)
“Kami minta barang bukti berupa handphone dikembalikan dan membebankan biaya perka-ra kepada negara,” kata Flo, saat membacakan pembelaan dalam sidang yang diketuai Bambang Sunanto SH.Flo merupakan tersangka pe-langgaran UU ITE atas statusnya di Path yang menghina dan men-ghujat warga Jogja. Sidang di-mulai pukul 15.15 dan berakhir 15.30. Saat membacakan pem-belaan, mahasiswa S2 Kenota-riatan UGM ini tidak didampingi penasehat hukum. Flo menilai, jaksa menuntut orang yang salah. Seharusnya jaksa me-nyeret empat orang yang diduga menyebarkan status yang ditulis-nya di Path tersebut. “Merekalah yang dengan sengaja mendistri-busikan status tersebut,” beber Flo.
Usai mendengarkan pembe-laan itu, kemudian majelis hakim meminta jaksa segara menyiap-kan tanggapan atas pembelaaan yang disampaikan Florence. “Besok Selasa sidang pemba-caan replik,” kata Bambang.Sebelumnya, Jaksa RR Rahayu menuntut Flo selama enam bu-lan penjara dengan masa per-cobaan 12 bulan. Florence diang-gap terbukti bersalah menyebar-kan status yang berisi menghina Kota Jogja pada akun Parth pri-badinya pada Agustus 2014. “Berdasarkan fakta persidangan dan keterangan saksi serta buk-ti yang ada kata-kata tolol, bang-sat dan tidak berbudaya yang ditulis di akun Path miliknya merupakan kata-kata bentuk penghinaan sehingga unsur penghinaan atau pencemaran nama baik terbukti,” kata Rahayu.
Florence dinilai melanggar Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat I UU ITE Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elek-tronik. “Kami meminta majelis menjatuhkan pidana 6 bulan penjara masa percobaan 12 bu-lan dengan denda Rp 10 juta atau susider tiga bulan kurungan,” kata Rahayu. (mar/laz/ong)