YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
KREATIF: Agus Sulistiyono (kanan) sedang menggaruk-garuk gundukan kotoran sapi yang sudah dihaluskan. Dia menggandeng LIPI untuk tularkan ilmu.

Manfaatkan Nanas dan Bekatul untuk Campuran Obat

Petani Desa Wonorejo, Sariharjo, Ngaglik telah lama mengolah kotoran sapi dan kambing menjadi pupuk kandang. Dengan riset dan teknologi, pupuk tersebut lebih bernilai guna.
YOGI ISTI PUJIAJI, Ngaglik
PEMILIK hewan ternak di wilayah Ngaglik kini tidak lagi bingung membersihkan kotoran di kandang. Kotoran kambing dan sapi kini di-tampung di markas kelompok ternak. Lahan seukuran sekitar 100 meter persegi penuh gundukan kotoran hewan mamalian tersebut. Nah, siang Kamis (19/3), seorang pria paruh baya tampak menggaruk-garuk gundukan kotoran sapi yang sudah dihaluskan. Setelah Radar Jogja menyapanya, pria tersebut ternyata Agus Sulistiyono, anggota Komisi VII DPR RI. Kehadiran politikus PKB itu bukan tanpa alasan. Untuk mengisi masa reses, Agus mengajak tim dari LIPI untuk menularkan ilmu hasil penelitian kepada petani tradisional. “Banyak riset dihasilkan LIPI tetapi belum dimanfaatkan masyarakat. Sayang, kan,” katanya sambil mengusap peluh di dahi.
Sengaja pria yang akrab disapa Gus Sulis menggandeng LIPI, sebagai mitra kerja di komisi yang membidangi riset, untuk turun ke lapangan. Juga dalam rangka mewujudkan program pemerintah dalam swasembada padi.Ada beberapa riset desiminasi yang diminta Agus kepada LIPI untuk ditulrkan kepada petani. Di antaranya, pengolahan pupuk organik cair, pembuatan pakan ternak bernutrisi tinggi, dan pengolahan bahan pangan non gandum menjadi mi. “Jadi, LIPI itu supaya nggak ngurusi politik saja. Tapi ada hasil untuk peng-abdian masyarakat,” ungkap DPR RI dari daerah pemilihan DIJ ini.
Melihat hasil budidaya pupuk kandang petani lokal, Agus mengapresiasi. Namun, ditambah hasil riset LIPI, hasilnya akan lebih bagus. Kuncinya ada pada mikroba yang dihasilkan dari riset panjang. “Ini sudah bagus. Dengan riset tentu lebih bagus lagi,” ucapnya yakin. Pupuk olahan kelompok tani sebenar-nya sudah terbukti hasilnya. Salah seorang petani, Danang Suryadianto,35, telah beberapa tahun menjadi pelanggan pupuk kandang Kelompok Tani Ternak Ngudi Makmur Wonorejo. “Harganya, sih, cukup bersaing. Itu relatif. Tetapi, ini hasilnya lebih bagus. Tanah dan tanaman lebih subur,” ungkapnya usai memuat 5 kuintal pupuk kandang sapi ke bak pikap.
Saat musim tanam, Danang biasanya mengambil pupuk sampai 2 ton untuk keperluan sekitar 4 bulan.Pria bertubuh subur itu sudah lama memakai pupuk organik bukan semata-mata karena hasil panen lebih bagus. Dampak bagi lingkungan hidup juga lebih aman. “Soal hasilnya, meningkat sampai 30 persen dibanding (pupuk) kimia,” ungkap Danang.Kelompok Tani Ternak Ngudi Makmur cukup produktif dalam mengelola produk. Per hari, rata-rata produksi mencapai lima ton. Seperlima di antaranya selalu terjual. Dan umumnya, pelanggan datang langsung ke lokasi pengolahan pupuk.Pupuk kandang ini dibedakan menjadi dua jenis. Yakni kotoran sapi dan kam-bing. Pupuk kandang sapi dibandrol Rp 20 ribu per zak (25 kilogram). Sedang-kan pupuk kambing lebih mahal Rp 10 ribu.
Selain langka, kualitas kotoran kambing dinilai lebih bernutrisi. “Pupuk kandang sapi lebih laris karena murah,” ungkap Teguh Sutrisno, pengelola rumah produksi pupuk.Untuk memenuhi bahan baku, pengelola mengumpulkan kotoran ternak dari kelompok. Jika tak cukup diambilkan dari peternak lain di wilayah Ngaglik.Proses pembuatannya cukup seder-hana. Soal bau, tentu sudah biasa. Kotoran ternak dikumpulkan di se-bidang tanah. Lalu, pengelola membuat nutrisi di dalam drum besar. Bahannya terdiri atas, bekatul, nanas, terasi, tepung, ikan, hingga buah busuk. Semua bahan dicampur menjadi satu untuk difermentasi. “Nanti hasilnya berupa cairan,” jelas Sutrisno.
Cairan tersebut lantas dicampurkan pada kotoran ternak. Setelah kering lalu disaring supaya halus dan dikemas. Nah, produk siap dipakai konsumen. “Kami sengaja buat sendiri nutrisinya. Kalau beli mahal. Apalagi nggak tahu komponenya apa saja,” lanjutnya.Guna menjaga kualitas produk, kelompok bekerjasama dengan maha-siswa salah satu perguruan tinggi di Jogja untuk penelitian. Setiap tahun, lanjut Sutrisno, produk diuji di laboratorium. (*/din/ong)