WAHYU METASARI/RADAR JOGJA
PENGURUS BARU: Pelantikan Pengurus APPBI DIJ periode 2015-2018, di Sahid Rich Hotel, kemarin (19/3).
JOGJA – Rencana beroperasi-nya lima pusat berbelanjaan (shopping mall) baru di kawasan Jogja Utara. Sebut saja Lippo Plaza Jogjakarta, Jogja One Line, Hartono Mall, Ambarukmo Plaza 2, dan Sahid Jogja Walk mendapat perhatian serius dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).Ketua DPD APPBI DIJ Djoko Tjatur S mengatakan, setidaknya akan ada 12 pusat perbelanjaan yang akan beroperasi di Jogjakarta. Meliputi Galeria Mall, Malioboro Mall, Ambarrukmo Plaza, Jogjatronik, Ramai Mall dan Jogja City Mall. Sedangkan ke depannya akan ada Lippo Plaza Jogjakarta, Jogja One Line, Hartono Mall, Ambarrukmo Plaza 2, Sahid Jogja Walk, dan Mataram City Walk yang masih dalam tahap pembangunan. Tak hanya itu, beberapa pusat per-belanjaan dengan skala lebih kecil juga akan dibangun seperti halnya hypermart.
Dia mengungkapkan, dengan adanya penambahan mal dan beberapa toko besar baru jelas berpengaruh pada tingkat penda-patan masing-masing mal. Me-ski begitu, dia mengimbau agar para pelaku bisnis baik peng-elola ataupun stake holder jangan saling bersaing melainkan tetap berkolaborasi untuk mencipta-kan target dan market baru.”Dalam situasi seperti ini, kita itu harus jeli. Menjaring konsumen baru dengan segmentasi lebih luas bisa menjadi salah satu stra-teginya. Jika awalnya kita hanya menjaring konsumen lokal se-karang sudah mulai memikirkan bagaimana caranya menjaring konsumen dari wisatawan,” terang Djoko dalam kepada wartawan dalam Pelantikan Pengurus APP-BI DIJ 2015-2018, di Sahid Rich Hotel, Kemarin (19/3).
Sebagai salah satu provinsi dengan luas wilayah terkecil yakni hanya 3.185 kilometer persegi, Djoko me-nilai keadaan seperti ini rawan akan berebut konsumen. Meski begitu, dia berharap jangan sampai men-jadi persaingan tak sehat. Meng-ingat jika dilihat dari segi lokasi, jarak pembangunan masing-masing mal memang cukup berdekatan.”Jogja itu kan wilayahnya sem-pit. Jadi jika banyak pemain oto-matis pembagian kuenya juga semakin kecil. Apalagi jarak an-tara satu mal dengan yang lain cukup berdekatan,” terangnya.Djoko menambahkan, selama ini jumlah konsumen terbesar adalah masyarakat lokal. Namun jika liburan datang, para pelancong dan pendatanglah yang menjadi market share terbesar dari bisnis shopping mall. “Fenomena inilah yang seharusnya dapat kita man-faatkan. Caranya dengan meng-giatkan program ataupun promo,” ujarnya. (met/ila/ong)