GUNAWAN/RADAR JOGJA
BUTUH PERHATIAN: Salah seorang warga menunjukkan saluran irigasi yang terkesan tidak terawat di Wonosari, Kecamatan Wonosari, kemarin (4/3).
GUNUNGKIDUL – Berdasarkan data dari Komisi C DPRD Gunungkidul, setidaknya lebih dari 67 persen irigasi pertanian mengalami kerusakan. Padahal keberadaan irigasi sangat mempengaruhi pertanian untuk mempertahankan ketersediaan pangan. Hal itu diungkapkan Ketua Komisi C DPRD Gunungkidul Purwanto.”Ke depan perlu diperbaiki untuk memertahankan ketersediaan pangan,” tandas Purwanto, kemarin (4/3).Menurutnya, untuk mempertahankan ketersediaan pangan dibutuhkan ketersediaan air yang mencukupi terlebih ketika kemarau. Jadi, saat datang kemarau tidak kekeringan dan ketika musim hujan tidak kebanjiran. “Butuh ketersediaan air yang baik begitu pula dengan pengelolaannya,” ujarnya.
Berdasarkan data yang ada, kondisi saluran irigasi di kota Gaplek sangat buruk. Sebanyak 67 persen masuk dalam kategori rusak. Kriterianya rusak ringan 21,6 persen, kondisi baik 32,06 persen sementara dalam kondisi rusak berat mencapai 46,45 persen. Daerah irigasi rusak tersebut tersebar di 200 daerah irigasi di Gunungkidul. Dijelaskan, dari total daerah irigasi seluas 7.732.00 hektare, luas area tanam 4.639.20. Sedangkan rencana panen 4.175.28; indeks pertanian 254,85 persen; hasil produksi hanya 5,74 ton per hektare sekali panen. “Ini berdasarkan data pada tahun 2014,” ungkapnya.
Sementara panjang saluran irigasi primer 12.513.70 meter, sekunder 305.116. 10 meter dantersier dengan panjang 49.660.00 meter. Data kerusakan tersebut terjadi di sejumlah wilayah kecamatan. Mengingat betapa pentingnya saluran irigasi dalam sektor pertanian, pihaknya mengusulkan anggaran perbaikan ke pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).”Kami mendesak pemerintah pusat untuk segera memperbaiki kerusakan irigasi tersebut. Sementara melalui APBD, kami akan melihat dulu bagaimana kekuatan anggaran,” tegasnya.
Dia mengakui, rehabilitasi saluran irigasi dianggarkan setiap tahun. Anggaran yang ada cukup besar, namun Purwanto tidak menyebut angka. Khusus untuk program perbaikan saluran irigasi dengan program DAK, proses pengerjaan ditangani oleh rekanan.”Beda dengan program P3A (Per-kumpulan Petani Pemakai Air), di mana dulu pengerjaan dilakukan sendiri oleh masyarakat. Nanti pengerjaan dikerjakan oleh rekanan,” ujarnya
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Gunungkidul Slamet Supriyadi mengakui saluran irigas di wilayahnya memang banyak yang rusak. Oleh karena itu, tahun 2015 ada upaya dari pemerintah untuk kembali mengoptimalkan saluran air tersebut. “Sekarang sudah dalam proses menuju optimalisasi saluran irigasi,” kata Slamet.Disinggung mengenai anggaran, ada tiga plot di antaranya penguatan saluran irigasi bekerjasama dengan P3A menelan anggaran sekitar Rp 134 juta. Kemudianoptimalisasi irigasi senilai Rp 267 juta dan untuk rehabilitasi jaringan irigasi sekitar Rp 3,3 miliar.”Namun untuk lebih jelas data jumlah kerusakan saluran irigasi silakan hubungi kabid pengairan,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Pengairan DPU Pratomo Pramudito sendiri belum bisa dikonfirmasi terkait data riil kerusakan saluran irigasi yang berada di wilayah Gunungkidul. (gun/ila/ong)