GUNUNGKIDUL – Salah satu pemicu terjadinya pernikahan anak di bawah umur, karena rata-rata sudah hamil duluan. Pengadilan Agama (PA) Wono-sari pun, akhirnya terpaksa ha-rus mengeluarkan disepensasi pernikahan di KUA untuk me-nikahkan mereka. Dari data yang masuk rekap PA Wonosari, selama 2014 ang-ka dispensasi nikah di bawah umur sebanyak 146 kasus. Bah-kan, untuk 2015 hingga bulan Fabruari lalu sudah ada 15 kasus. Terkabulnya dispensasi per-nikahan anak dibawah umur ini ditentukan dalam Undang-Undang (UU) Republik Indone-sia (RI). Kondisi demikian men-jadi perhatian serius dari sejum-lah pihak. Salah satunya, Forum Anak Gunungkidul.Ketua Forum Anak Gunung-kidul, Gilang Yulianto menga-takan, permasalahan pernikahan dini semakin hari semakin mem-prihatinkan.
Setiap tahun, ang-ka terus bergerak naik. Sebagian besar pernikahan dini dipicu karena hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas.”Kalau tidak diberikan ruang untuk menyalurkan hal-hal positif, anak lebih cenderung main ke arah negatif,” kata Gilang usai menghadiri kegiatan pemilihan duta anak di Bangsal Sewoko-projo Wonosari, kemarin (1/3).Dia mengungkapkan, pergaulan bebas berujung dengan kehami-lan dan pernikahan merupakan dampak negatif dari kemajuan teknologi serta kurangnya perha-tian dari orang tua. Situasi demikian diperparah dengan minimnya wadah yang disediakan oleh pe-merintah untuk menyalurkan kemampuan dan potensi anak. “Kondisi itu menyebabkan per-nikahan dini di Gunungkidul setiap tahun mengalami pening-katan. Solusinya anak diberi fasilitas untuk menyalurkan kegiatan positif, ” ujarnya.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Pember-dayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB) Gunungkidul, Rumniyati Hastuti mengaku terus berupaya menekan pernikahan dini. Se-karang pihaknya berencana membuat peraturan perundangan pencegahan pernikahan dini. “Saat ini rancangan aturan sedang digodog. Kami berharap, setelah selesai aturan bisa ditetapkan sehingga menjadi payung hukum untuk meminimalisasi pernika-han dini,” ujarnya.Tidak hanya itu, selama ini BPMP-KB juga sudah melakukan media-si penundaan pernikahan. Calon mempelai yang hendak menikah namun masih di bawah umur di-mediasi agar menunda pernikahan. “Hal itu (mediasi) bisa kami laku-kan jika permasalahannya bukan hamil duluan. Beberapa waktu lalu kita bisa memediasi tiga pa-sangan di bawah umur. Kami beryukur, pernikahan ditunda,” ungkapnya. (gun/din/ong)