JOGJA – Rencana digulirkannya program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahaan (FLPP) oleh pemerintah disambut baik oleh perbankan. Terutama per-bankan yang selama ini mengelu-arkan program kredit perumahan. Kebijakan suku bunga rendah tersebut diyakini mampu mem-perluas sasaran pembiayaan.Deputy Branch Manager BTN Syariah Jogjakarta Fajar Setyo Nugroho mengatakan, kebera-daan FLPP dengan suku bunga lima persen dapat memperluas sasaran konsumen dari kalangan menengah ke bawah. Apalagi, program FLPP sejalah dengan misi BTN Syariah yang banyak menangani pembiayaan kredit perumahan rakyat (KPR). “Tahun ini kami masih fokus pembiayaan perumahaan. Ke-beradaan FLPP bisa memper-luas cakupan dan membuka peluang bagi masyarakat ber-penghasilan rendah,” kata Fajar, kemarin (23/2).
Diakui Fajar, selama ini segmen masyarakat berpendapatan me-nengah ke bawah masih belum banyak tersentuh sektor pem-biayaan perumahan. Seperti karyawan pabrik dengan gaji masih standar UMR. Mereka masih sangat kesulitan untuk mengakses pembiayaan peru-mahaan karena terkadang penda-patan terbentur dengan persya-ratan pengajuan kredit.Dia mengungkapkan, bunga KPR yang diberikan BTN Sya-riah sebenarnya sudah cukup murah, sebesar delapan persen untuk perumahan subsidi dan 12 persen untuk perumahan komersial. Dengan adanya FLPP tersebut, dimungkinkan BTN Syariah menyasar nasabah dengan gaji di bawah Rp 2,5 juta per bulan untuk perumahan bersubsidi. Sedangkan untuk pembiaya-an perumahan sendiri, jelas Setyo, pada tahun lalu tercatat mencapai Rp 150 miliar. Dari angka itu, pencapaian untuk pembiayaan rumah subsidi sebesar Rp 75 miliar atau 50 persen dari yang ditargetkan dengan kredit macet (NPL) di-bawah 1,5 persen. “Untuk tahun ini, ditargetkan penyerapan pembiayaan perumahan mela-lui KPR bisa menembus Rp 180 miliar,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPD REI DIJ Nur Andi Widjayanto mengatakan, upaya pemerin-tah menggulirkan kebijakan FLPP menandakan perhatian yang cukup tinggi. Terutama terhadap kebutuhan golongan masyarakat ekonomi rendah terhadap kepemilikan peru-mahan. Dengan adanya program tersebut, serapan masyarakat untuk memiliki rumah semakin tinggi sehingga angka backlog (kebutuhan) perumahan se-makin menurun.”Golongan masyarakat ber-penghasilan rendah sangat kesu-litan untuk memiliki perumahan. Terutama bagi mereka yang be-kerja di kawasan di mana harga rumah semakin mahal,” jelas Andi, sapaannya.ImplementasiFLPPdi lapangan, kata Andi, masih menyasar kelu-arga yang secara kemampuan dinilai cukupbankableoleh pi-hak perbankan. Oleh karena itu, membuat golongan berpengha-silan rendah menjadi bankable cukup penting. (bhn/ila/ong )