JOGJA – Lagi, mahasiswa UMY memenangi kompetisi teknologi. Kali ini, teknologi inovasi karya tiga mahasiswa teknik mesin UMY berupa alat bantu gerak bagi penyan-dang difabel, menjuarai kompetisi Autodesk ASEAN Design Competition. Para inovator tersebut, antara lain Satriawan Dini Hariyanto, Panji Prihandoko, dan Roma-rio Aldrian.
Mereka memberi label karyanya dengan nama Muhammadiyah Yogyakarta Exoskeleton (Myx-o).Satriawan mengatakan, sebelum mengikuti kompetisi tingkat ASEAN, terlebih dulu mengikuti perlom-baan yang diadakan Universitas Indonesia (UI). Dari kompetisi ter-sebut, masuk dalam 10 tim dan berhak meng ikuti kompetisi tingkat ASEAN. “Alhamdulillah, tekno-logi yang kami ciptakan menjuarai kompetisi ini,” kata Satriawan kemarin (9/2).
Sebelum mengikuti perlombaan, tim ber-diskusi untuk memilih tema. Ada dua yang menjadi fokus diskusi, yaitu alat bantu untuk tunarungu dan tuna-daksa. Setelah itu di-pilih alat bantu untuk tunadaksa. “Kami ingin mem-bantu difabel tunadaksa agar dapat menjalankan ak-tivitas seperti orang normal pada umumnya,” paparnya.Inovator yang lain, Panji menambahkan, penger-jaan teknologi Myx-o membutuhkan waktu enam bulan.
Langkah pertama, melakukan survei ke SLB Negeri 1 Bantul dan Komunitas Difable Jogjakarta.Se-lama survei, dilakukan pengamatan dan wawan-cara kepada penyandang difable.”Mereka mengeluh sulit berjalan, bahkan hanya untuk pergi ke toilet. Dari keluhan tersebut, kami lakukan penelitian, sehingga muncul alat bantu tunadaksa ini,” katanya.
Dijelaskan, alat bantu tunadaksa karyanya meru-pakan alat bantu berfungsi ganda, yaitu membantu berjalan sekaligus sebagai terapi berjalan. Fungsi utama alat ini dipasang pada kaki. “Alat ini juga dapat digunakan bagi penderita stroke,” ungkapnya.Selama proses pembuatan alat bantu ini, tim di-dampingi seorang dosen Tutik Sriyani, dan Setia Prihandana. “Pada 10 Maret besok (Hari ini, Red), kami akan ke Beijing untuk sharing dengan para peserta dari negara lain,” terangnya. (mar/jko/ong)