SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
BPR: Pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIJ ke-VI di Royal Ambarrukmo Hotel Jogjakarta, Rabu (14/1).

Persaingan Perbankan Makin Ketat

JOGJA – Pasar kredit di Jogjakarta cukup tinggi, tak hanya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang fokus pada sektor ini. Bank umum juga melakukan penetrasi pada kredit UMKM, sehingga persaingan sema-kin ketat. Melihat ini, Gubernur DIJ Ha-mengku Buwono (HB) X mendorong BPR agar dapat survive berkompetisi membe-rikan kredit kepada UMKM. “UMKM di DIJ semakin berkembang, otomatis kredit yang diminta semakin tinggi,” kata HB X disela-sela Musyawarah Daerah (Musda) Perhimpunan Bank Per-kreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIJ ke VI di Royal Ambarrukmo Hotel Jog-jakarta, Rabu (14/1).
Menurut HB X, kompetisi yang dilakukan oleh BPR dengan bank umum tidak boleh sebanding. BPR harus mampu mencari mekanisme pengelolaan modal agar kre-dit yang disalurkan tidak sama dengan bank umum. “Syukur bisa mencarikan dana yang lebih murah. Kalau linked hanya dengan bank umum, sedangkan bank tersebut juga mem-berikan kredit kepada UMKM, bisa jadi bunga yang diberikan BPR lebih tinggi,” katanya.
Maka dari itu, BPR dapat menyiasatinya dengan melakukan konsorsium sendiri dalam penguatan modal, sehingga tidak banyak bergantung dengan bank umum. Cara tersebut juga sebagai antisipasi meng-hadapi kredit macet. “Kalau pemiliknya satu terjadi kredit macet bisa bubar. Kalau konsorsium kan bisa ditanggung bersama-sama,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Per-barindo Joko Suyanto mengatakan, pola kredit yang dilakukan oleh BPR berbeda dengan bank umum. Menurutnya, pihaknya tidak menyalurkan kredit kepada UMKM saja, melainkan juga didukung dengan langkah pembinaan.”Pola hubungan kerja BPR dengan ma-syarakat itu tidak berhenti saat kami mem-berikan modal. Tetapi kami membina bagaimana manajemen mereka, pemasa-ran dan pengelolaan keuangan. Sehingga mereka menjadi pengusaha UMKM yang mandiri,” terangnya.
Saat ini, jelasnya, nasabah BPR di seluruh Indonesia sebanyak 14 juta orang. Sedang-kan jumlah BPR konvensional sendiri sebanyak 1.633, dengan total kantor 4.800 unit. Joko menyatakan, keberadaan BPR di Indonesia mayoritas sehat. Ini dibuktikan dengan pertumbuhan yang terjadi pada BPR.
Dia mencatat aset BPR hingga November tahun lalu mencapai Rp 88 triliun. Dari jumlah tersebut mam-pu tumbuh 15,8 persen dari sisi kredit. Sedangkan dari sisi dana pihak ketiga (DPK) pertumbuhannya 15,6 persen. “Perkem-bagan di 2014, meskipun tidak sebaik tahun sebelumnya bisa dikatakan cukup baik. Sebab tantangan di tahun tersebut sangat besar dari segi ekonomi maupun geopo-litik,” jelasnya.
Dia yakin pada 2015 ini pertumbuhan BPR bisa mencapai 18 persen. Dukungan ekonomi dan daya beli masyarakat di tahun ini diprediksi akan meningkat. “Imbasnya, industri BPR akan bertumbuh,” harapnya. (bhn/ila/ong)