HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
INDAH: Mendekati musim petik, pemandangan indah terlihat di lokasi budidaya bunga krisan di Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, kemarin (10/11).

Panen Tiap Tiga Bulan Sekali

KULONPROGO – Budidaya bunga krisan di Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo semakin menjanjikan. Kubung tempat budidaya bunga ini terus bertambah. Warga juga mendapatkan hasil yang cukup memuaskan setiap memasuki musim panen.Petani bunga krisan di Desa Gerbosari sudah beberapa tahun terakhir menikmati hasil panen. Ada banyak varian bunga krisan, di antaranya Bacardi, Puspita Nusantara hingga Fiji. Tiap tiga bulan sekali, bunga mekar sempurna dan siap dipetik dengan mayoritas warna yang dihasilkan adalah kuning dan putih.Salah satu petani bunga krisan, Sukardi, 59, mengungkapkan bunga krisan yang memiliki nama latin Chrysanthemum sudah cukup lama dibudidayakan warga di desanya. Di atas ketinggian dengan udara yang sejuk dan dingin, bunga krisan sangat mudah hidup di sana.
“Suguhan pemandangan nan cantik dan menakjubkan selalu terlihat ketika memasuki masa petik. Hampir merata bunga mekar dengan sempurna,” ujar warga Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh ini.
Bunga yang banyak digunakan untuk penghias pelaminan itu memang tidak harum namun warnanya bagus. Awet seperti bunga yang dibuat dari plastik, krisan juga umum digunakan untuk membuat karangan bunga tanda duka cita. Warna bunga Krisan banyak ragamnya. Krisan juga lebih luwes, bisa disandingkan dengan berbagai jenis bunga lain dalam sebuah dekorasi.
“Sekali panen bisa mencapai 4.000 tangkai bunga dari setiap kubung yang ada,” terang mantan Kepala Desa Gerbosari ini.Sukardi menjelaskan dirinya memiliki tiga buah kubung di pekarangan rumahnya. Menurutnya, pemasaran biasa dilakukan melalui kelompok tani bunga Seruni Menoreh. Semua bunga itu didistribusikan ke Kotabaru, Jogja. Bunga dijual per tangkai berkisar antara Rp 800 hingga Rp 1.000 per tangkai. Sementara di tingkat pedagang bunga, harganya mencapai Rp 1.300 sampai Rp 1.500.
“Sekali panen saya bisa mengantongi Rp 3,5 juta per kubung, dengan biaya operasional tanam berkisar Rp 1 juta untuk tiap kubung,” bebernya. (tom/ila/ong)