DWI AGUS/Radar Jogja

PATUT DIAPRESIASI: RM Donny S. Megananda menilai wayang dapat membentuk karakter bangsa dengan jati diri kearifan lokal.

Sering Urunan Keluarga untuk Hidupi Museum

Sosoknya masih tergolong muda, namun semangatnya dalam melestarikan budaya sangat tinggi. Bahkan dirinya saat ini menjabat Kepala Museum Wayang Kekayon Jogjakarta. Ketertarikan RM Donny S. Megananda SS, MM dalam hal wayang pun perlu diapresiasi.
DWI AGUS, Bantul
Minggu pagi (19/10) Gebyar Museum 2014 yang berlangsung di Museum Wayang Kekayon terlihat ramai. Puluhan anak tampak memadati pendopo museum yang terletak di tengah. Sementara itu para orangtua terlihat sabar menanti di sisi pendopo.
Para panitia yang mengenakan batik putih pun turut sibuk. Salah satu dari panitia ini adalah RM Donny S. Megananda. Meski berkedudukan sebagai kepala museum, dirinya tidak merasa tinggi. Justru Donny — sapaan akrabnya– turut membaur dan sibuk dalam susunan acara.
“Sangat menyenangkan saat suasana museum ramai seperti ini. Banyak anak yang bermain dan belajar dengan melihat koleksi museum,” katanya kepada Radar Jogja.
Melanjutkan obrolan, pria kelahiran Jogjakarta 19 Juli 1974 ini memilih di bawah naungan pohon jati. Ditemani sejuknya angin dan riuhnya suara anak-anak, obrolan seru pun berlanjut. Diawali dengan sejarah berdirinya satu-satunya museum wayang di Jogjakarta ini.
Suami RR Andriani Kusumadewi ini menjelaskan, inisiatif berdirinya museum dari almarhum ayahnya, Prof. Dr. dr. KPH. Soejono Prawirohadikusumo, SpS Sp KJ. Kecintaan sang ayah terhadap wayang sudah sejak muda.
Kecintaan ini bertambah ketika almarhum Soejono menimba ilmu ke Belanda pada tahun 1967. Di tahun itu pula dirinya bertemu dengan salah seorang sahabat berkewarganegaraan Belanda. Terjadi obrolan yang menarik di antara keduanya. Terutama topik seputar pelestarian wayang di Indonesia.
“Bapak waktu itu cerita bahwa sahabatnya memberikan sebuah wejangan. Pesannya adalah suatu dosa apabila pusat budaya tidak punya museum wayang. Perkataan yang menggugah bapak mendirikan museum wayang ini,” kata ayah dari tiga putri ini.
Meski begitu, di awal pembicaraan tetap ada pertanyaan besar. Terlebih mengenai pembiayaan dan kekuatan dalam mendirikan sebuah museum. Pada waktu itu, almarhum ayahnya bertanya apakah bisa jika orang biasa mendirikan sebuah museum.
“Bapak waktu itu bertanya apakah tidak hanya orang kaya dan pemerintah. Tapi dijawab semua itu hanya butuh tekad dan kemauan, selain biaya tentunya. Sepulang dari Belanda di tahun 1970-an bapak pun mulai mewujudkan impiannya ini,” kenangnya.
Berdirinya museum ini pun memerlukan waktu yang panjang. Pembangunan diawali pada tahun 1979 dengan membeli sawah tak terpakai seluas 1,1 hektare di ruas jalan Jogja Wonosari Km 7. Bertahap tapi pasti tahun 1980 beberapa bangunan mulai menempati lahan luas ini.
Diakui adik mantan Menpora Roy Suryo ini, pembangunan dilakukan dengan mencicil. Mulai dari bangunan inti, lalu bergeser ke bangunan museum. Bahkan untuk mengoleksi wayang, almarhum ayahnya menyisakan uang praktik dokter untuk membeli wayang.
“Tidak membeli satu kotak langsung, tapi beli satu wayang setelah lima hari praktik. Akhirnya koleksi ini terus bertambah dan total sudah ada 6.000 koleksi. Selain dari koleksi bapak, ada dari koleksi keempat anaknya. Juga ada hibah dari seniman-seniman wayang di Indonesia,” kata anak bungsu dari empat bersaudara ini.
Melihat gaya bangunannya, Museum Wayang Kekayon memang sangat mencirikan bangunan Jawa. Ini terlihat dari gaya arsitektur hingga ukiran-ukirannya. Meski begitu, beberapa akulturasi khususnya dalam agama, kepercayaan dan budaya tetap terpancar dari bangunan tua ini.
Donny menjelaskan makna dari desain dan ukiran ini memiliki arti. Menurutnya, Jawa adalah rumah dari seluruh wayang. Sehingga mengusung tema Jawa merupakan pemaknaan sebagai rumah bagi wayang-wayang. Tentunya juga untuk menguatkan nilai dan filosofi dari sebuah wayang.
Uniknya, bangunan tua ini tidak menampung semua koleksi wayang. Diakui Donny, jumlah wayang yang ada di museum hanyalah 10 hingga 15 persen dari total koleksi. Sisanya wayang-wayang ini disimpan di kediaman keluarga besarnya di daerah Notowinatan, Jogjakarta.
“Perawatannya tetap sama, tapi memang ada beberapa yang kita pajang. Ragamnya juga banyak, mulai wayang purwa, Gedhog, Klithik, Dupara, Diponegaran, Krucil Golek dan Golek Cepak. Ada juga yang berumur ratusan Golek Thengul, wayang Madura, Wayang Bali dan Wayang Lombok,” ungkapnya.
Pria yang murah senyum ini juga mengungkapkan pembelajaran wayang penting. Tidak hanya dari segi estetik, namun juga nilai-nilai filosofi. Setiap karakter wayang pun memiliki pemaknaan yang berbeda. Sifat inilah yang patut diterapkan dalam kehidupan keseharian.
Dirinya pun setuju wayang merupakan masterpiece dari kebudayaan Indonesia. Terlebih statusnya saat ini sudah menjadi warisan budaya global setelah diakui oleh UNESCO. Penghargaan ini tentu wajib ditanggapi dengan serius oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.
Tugas ini, menurutnya, tidak hanya milik pemerintah namun semua orang. Sudah tidak zamannya lagi berteriak pelestarian, tapi pada kenyataannya justru duduk diam dan tidak bertindak. Pelestarian seperti ini butuh langkah nyata tidak hanya omongan dan wacana.
“Wayang itu merupakan salah satu tonggak kebudayaan bangsa. Dapat membentuk karakter bangsa dengan jati diri kearifan lokal. Tidak hanya sekadar teori, jika serius mempelajari wayang memiliki kekayaan filosofi dari ujung rambut hingga ujung kaki,” ungkapnya.
Sebagai museum swasta, diakui banyak kendala yang dihadapi. Terlebih dalam hal pendanaan operasional museum. Tidak bisa selamanya mengandalkan pemasukan dari kunjungan. Untuk menghidupi museum, tak jarang keluarga besar urunan untuk menutupi.
Selain itu operasional juga ditutupi dari beberapa usaha yang dibuka oleh almarhum ayahnya. Meski begitu, tak jarang pula museum ini mendapatkan bantuan dari pemerintah. Wujudnya dalam bentuk program dan promosi kegiatan museum.
“Museum ini termasuk golongan museum yang tengahan. Lebih banyak sepi kunjungan dibandingkan museum lainnya. Dengan adanya program dari pemerintah pun sangat membantu, misalnya Festival Museum atau Gebyar Museum ini,” katanya.
Meski begitu Donny tetap aktif menyuarakan dalam berbagai forum. Dirinya berharap museum menjadi bagian dari institusi pendidkan. Ini karena perannya sebagai pustaka pendidikan. Beberapa benda artefak yang disimpan pun merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.
Dirinya miris ketika ada perbandingan antara museum dengan objek wisata. Dua titik ini merupakan hal yang sangat berbeda. Pastinya dari sisi kunjungan dan konten tidak berimbang antara satu sama lain. Tujuan utama dari museum adalah memperkenalkan niai sejarah yang terdapat dalam koleksi museum.
Museum pun tetap memerlukan pendampingan khususnya dari pemerintah. Tujuannya untuk mengikuti dan peka terhadap dinamika masyarakat. Penyusunan strategi yang pas tanpa menghilangkan nilai museum.
“Jangan hanya dikasih uang, tapi dalam menjalankan funsinya tidak optimal. Seakan urip karepmu, ora karepmu. Padahal wayang kan peradaban bangsa yang sudah internasional. Berharap juga museum tidak hanya menjadi buku tua yang malas dibaca, justru harus menjadi buku foto yang menyimpan kenangan indah,” pesannya. (*/laz/ong)