Mayoritas karena Ulah Manusia

BANTUL- Panjangnya musim kemarau tahun ini ternyata tidak hanya berdam-pak terhadap kekeringan. Ada dampak lain yang perlu diwaspadai, yakni anca-man kebakaran. Kepala Badan Penanggulangan Ben-cana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Dary-anto mengatakan, selama musim kema-rau banyak sumber mata air yang me-nyusut. Begitu pula dengan aliran sungai. “Sejumlah langkah antisipasi dampak kekeringan sudah dipersiapkan semua,” terang Dwi saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (7/10).
Begitu pula dengan berbagai langkah antisipasi ancaman kebakaran. Di anta-ranya, BPBD menyiagakan dua unit mobil pemadam kebakaran (damkar) untuk mengantisipasi ancaman keba-karan selama musim kemarau tahun ini.Dwi menyebutkan, selama musim ke-marau tahun ini setidaknya telah ter-jadi kebakaran sebanyak tiga kali. Yaitu di Wukirsari, Imogiri, Selopamioro, Imo-giri, dan Srimulyo, Piyungan. “Lokasinya adalah lahan rakyat atau hutan masy-arakat yang terbakar,” ujarnya.
Ada pun penyebabnya adalah human error. Seluruh pemicu kebakaran lahan rakyat tersebut akibat puntung rokok. Sebab, mayoritas para pencari rumput di sekitar lahan rakyat membuang puntung rokok sembarangan tanpa memikirkan dampaknya. Untungnya, tiga insiden kebakaran lahan rakyat cepat tertangani karena banyaknya warga yang ikut memadamkan dengan menggunakan ranting pohon. Toh, seluruh lahan rakyat yang terba-kar tersebut berada di tengah hutan. Mobil damkar BPBD sulit menjangkau-nya. “Petugas BPBD hanya melokali-sasi agar kebakaran tidak melebar ke permukiman warga,” ungkapnya.Dibanding tahun lalu, kata Dwi, insiden kebakaran lahan rakyat pada musim kemarau tahun ini cenderung menurun. Tahun lalu setidaknya terjadi lima insi-den kebakaran lahan rakyat. “Lahan rakyat yang rawan kebakaran berada di wilayah Piyungan, Imogiri, Dlingo, Ple-ret, dan Pajangan,” sebutnya.Berdasarkan informasi dari BMKG musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga awal Nopember mendatang. (zam/din)