PANDAK – Setelah hampir tiga pekan hidup di gubuk, kini Sukemi dapat ber-nafas lega. Warga Pedukuhan Gumulan, Caturharjo, Pandak tersebut saat ini punya harapan besar dapat membangun rumahnya yang ambruk beberapa waktu lalu. Itu setelah bantuan demi bantuan dari masyarakat berdatangan. Ketua RT 06 Pedukuhan Gumulan Duwijo menceritakan, selama ini, Su-kemi hidup sendirian. Anak semata wayangnya memutuskan tinggal di Muntilan, Magelang. “Mbah Kemi juga nggak punya KK (kepala kelu-arga),” terang Duwijo, kemarin (21/9).
Selama ini, KK Sukemi mengikuti salah satu adiknya. Parahnya, setelah rumahnya ambruk pada Rabu (3/9) lalu, Sukemi tidak dapat berbuat ba-nyak. Begitu pula warga setempat. Warga hanya bergotong-royong mem-buatkan gubuk kecil untuk Sukemi. Gubuk berukuran 1,5X 3 meter yang berdiri di samping rumahnya yang ambruk tersebut, akhirnya dimanfaat-kan Sukemi sebagai tempat tinggal, beraktivitas, dan menyimpan berbagai barang miliknya. “Rapat RT menyepa-kati untuk membantu mbah Kemi dengan seikhlasnya,” ujarnya.
Pihak RT tidak dapat mengajukan bantuan kepada pemerintah karena terkendala persoalan KK. Mengingat, tahun lalu adik Sukemi pernah menda-patkan bantuan dari pemerintah. “Karena prosedurnya memang be-gitu. Ketika tahun lalu dapat, otomatis tahun ini tidak boleh mengajukan lagi,” ungkapnya. Dari itu, Duwijo mengapresiasi sikap paguyuban Warga Kabupaten Bantul (Warkaban) yang bersedia memberi-kan bantuan kepada Sukemi. “Bantuan berupa bahan material bangunan ini akan digunakan untuk membangun ulang rumah mbah Kemi,” bebernya.
Anggota Warkaban Suharsono me-negaskan, paguyuban yang beranggota-kan perantau asal kabupaten Bantul tersebut tengah mencanangkan program Makaryo Bangun Deso. Pertimbangan-nya, masih ada beberapa wilayah yang dinilai jauh dari sejahtera. “Di sini saja masih ada warga yang belum teraliri listrik seperti rumah mbah Kemi ini,” urainya. (zam/jko/gp)