JOGJA – Tim Penanganan Ca-gar Budaya (BCB) mencatatkan sejarah dalam penegakan Un-dang-Undang No 10 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tim yang terdiri atas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Ke-budayaan DIJ dan Badan Peles-tari Cagar Budaya (BPCB) akhir-nya bisa menyelesaikan kasus perusakan BCB SMA 17’1’.
Ini setelah dilakukan penyidi-kan selama satu setengah tahun. Sejak terjadi perusakan pada 11 Mei 2013 silam. Tim menetapkan dua tersang-ka yaitu Yoga Trihandoko (YT) sebagai pelaku perusakan dan Mochammad Zakaria (MZ) se-bagai pemberi perintah. Hanya saja, penetapan kedua tersang-ka ini tak disertai dengan pena-hanan. Koordinator Pengawas (Korwas) PPNS Polda DIJ Kom-pol Tri Wiratmo mengatakan, kedua tersangka sejak awal kooperatif. Inilah yang mem-buat PPNS tak menahan kedua tersangka. “Meski sebenarnya mereka bisa ditahan. Sesuai dengan amanah dari UU dengan di-bantu pihak kepolisian,” tandas Tri, saat menjelaskan kepada wartawan di kantor Dinas Ke-budayaan DIJ, kemarin (16/9).Ia mengungkapkan, MZ ber-peran sebagai pemilik atau pem-beli BCB tersebut. Ia pun mem-berikan perintah kepada YT untuk melakukan perusakan terhadap BCB. Bukti berupa hitam di atas putih didapatkan tim penyidik.Padahal, dari penjelasan tim penyidik, MZ ini yang mem-buat penyidikan berlangsung lebih dari setahun. MZ yang membeli BCB tersebut, tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah. “Ketemu sekali sempat kejar-kejaran. Tapi dengan pendeka-tan, akhirnya dia bersedia untuk berkooperatif,” lanjutnya. Untuk bisa bertemu dengan MZ ini, tim harus mondar-man-dir Jogja-Purwokerto. Ia men-ceritakan, jika tim baru berhasil bertemu setelah enam kali be-rangkat ke Purwokerto. “Kami jelaskan, tidak akan untuk me-masukkan ke dalam DPO (Daf-tar Pencarian Orang) jika beker-jasama,” katanya.Selain sebagai pembeli, MZ diduga juga sebagai otak perusa-kaan. Sedangkan tukang bong-kar tak ada yang menjadi ter-sangka dalam kasus ini. Tim penyidik menetapkan dua ter-sangka sesuai alat bukti.Mereka pun disangka melang-gar Pasal 113 ayat 3 UU tersebut, dengan ancaman pidana penja-ra paling singkat satu tahun dan paling lama 15 tahun dan atau denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp 5 mi-liar.Kepala Seksi Penerangan Hu-kum dan HAM Kejaksaan Ting-gi (Kejati) DIJ Purwanto Sudar-maji memastikan, pihaknya sudah menerima limpahan ini pada 9 September lalu. Setelah pelimpahan, Kejati akan me-nyidangkan di Pengadilan Ne-geri (PN) Kota Jogja pekan ini. “Sampai saat ini tersangka tidak ditahan karena memang koo-peratif,” aku Purwanto.Di lain pihak Koordinator Ma-syarakat Advokasi Warisan Bu-daya (Madya) Johanes Marbun melihat ada yang ditutupi dalam kasus ini. Sebab, satu orang yang berinisial WS tak menjadi ter-sangka. “Padahal, dari hasil pe-nelusuran kami WS inilah yang membuat kerjasama hitam di atas putih perusakan BCB dengan YT,” kata Marbun.Ia pun berharap, di pengadilan nanti berjalan dengan adil. Ini karena kasus perusakan BCB baru pertama kali disidangkan di Indonesia. “Apalagi bangunan SMA 17’1’ ini termasuk BCB nasional. Jadi, sangat disayang-kan kalau tidak ada penegakkan yang serius,” tandas Marbun. (eri/laz/gp)