MAGELANG – Tiga terdakwa kasus pelemparan bom molotov rumah wartawan Jawa Pos Radar Jogja Frietqi Suryawan dipastikan merupakan tenaga keamanan pada pembangunan Pasar Rejowinangun. Selain itu, ketiga orang tersebut merupakan anggota Ormas Macan Tidar.Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Karim yang dihadirkan Pengadilan Negeri (PN) Magelang sebagai saksi dalam persidangan pelemparan bom molotov dengan majelis hakim yang diketuai Irwan Effendi SH MH.”Iya, saya adalah koordinator lapangan untuk keamanan pembangunan Pasar Rejowinangun. Mereka anggota saya. Ketiganya,” jawab Karim kemarin (28/8).
Selain mengaku sebagai koordinator lapangan, Karim juga berposisi sebagai Pimpinan Ormas Macan Tidar.”Saya dimintai tolong oleh Armada (PT Armada Hada Graha, Red) dan Putra Wahid (PT Putra Wahid Pratama, Red) untuk menjadi koordinator soal keamanan. Dalam pelaksanaannya, saya menunjuk Peyot untuk menjadwalkan (giliran jaga, Red). Keamanan melibatkan 40 orang dari Macan Tidar dan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Saat hakim menanyakan informasi soal adanya pelemparan bom molotov di rumah wartawan yang akrab disapa Demang, Karim mengaku ditelepon seorang wartawan.”Saya ditelepon Pak Tuhu (wartawan), dikabari kalau rumah Demang dibom molotov,” ungkapnya.
Dalam sidang tersebut, dua kali Karim membuat pernyataan, para anak buahnya sudah mengklarifikasi pada para terdakwa bahwa mereka diberhentikan karena proyek telah selesai. Sebagai tenaga keamanan, para terdakwa dibayar Rp 1,250 juta per bulan oleh pihak investor. Di mana sejak pertengahan Februari, proyek sudah selesai dan hanya terdakwa Heri Utama yang diperpanjang satu bulan lagi. Ia ikut pihak investor.”Saya tidak pernah menemui mereka di LP (Lapas). Tetapi teman-teman yang menengok ke LP sudah mengklarifikasi ke mereka (terdakwa, Red), kalau mereka dipecat karena sudah selesai (proyeknya, Red),” paparnya.
Karim membenarkan kalau satu hari setelah kejadian, dirinya menemui Demang untuk menyatakan keprihatinan atas kejadian pelemparan bom molotov.”Saat itu, saya tidak tahu kalau yang ngebom adalah anak buah saya. Saya tahunya, sekitar Mei ditelepon Pak Kasat (Kasatreskrim Polres Maghelang Kota, Red) agar datang ke kantor (Mapolres, Red). Di sana, saya dijelasin situasinya dan diminta untuk menelepon Heri agar datang ke kantor. Naim dan Yoyo sudah ditangkap,” katanya.Selain menghadirkan Karim, pengadilan juga mendatangkan dua petugas Polres Magelang sebagai saksi. Keduanya menjelaskan, tiga terdakwa, yakni Choirun Naim, Heri Utama, dan Yordan Setiawan alias Yoyo melakukan upaya pembakaran karena alasan dendam pribadi terhadap pemberitaan korban. Tiga terdakwa merasa perlu memberikan pelajaran pada korban untuk keberlangsungan pembangunan pasar.
Selain itu, dua saksi dari polisi ini juga membeberkan kalau tertangkapnya tiga pelaku kejahatan tersebut berawal dari informasi kendaraan yang digunakan untuk pengeboman. Yakni Supra X 125 Nopol AB 2363 YJ yang pemilik terakhirnya adalah Naim. “Saat diminta keterangan di polisi, ketiganya mengakui perbuatan mereka soal pembakaran yang bisa mengakibatkan jiwa melayang,” kata saksi dari polisi.Dalam persidangan tersebut, ketiga terdakwa tidak menggunakan kuasa hukum atau advokat. Padahal, mereka dijerat Pasal 187 KUHP tentang pembakaran dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Pernyataan petugas polisi sempat dibantah terdakwa Heri Utama. “Saya bukan penyedia bensin,” sergah Heri.Dari hasil Labfor Polda Jateng, bahan bakar yang digunakan untuk mengisi botol bekas (merek Topi Miring) adalah bensin. Hanya saja, sumbu yang berasal dari bahan handuk sempat dicelupkan ke minyak tanah untuk mengurangi efek rembatan api yang bisa membahayakan pelaku.Sidang akan dilanjutkan pada 9 September mendatang. Agendanya, masih seputar pemeriksaan saksi-saksi.(ady/hes)